Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang baik sekali bahkan terlihat seperti “ibu peri”? Iya, dia selalu dengan senang hati membantu orang lain, berbagi sesuatu, bahkan mendahulukan urusan orang lain layaknya seorang peri. Ketika menulis ini, aku juga membayangkan seorang temanku di kelas yang selalu bersedia menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya, melihat perilakunya yang senang menolong, membuatku mengingat salah satu istilah dalam psikologi yang membahas tentang perilaku menolong ini, yaitu Altruisme.

Kamu pernah mendengar istilah tersebut? Di beberapa artikel altruisme disebut sebagai lawan kata egois. Benarkah begitu? Egois seperti yang kita tahu merupakan sifat seseorang yang lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan sekitarnya, lalu apa itu altruisme? Apakah altruisme merupakan sifat seseorang yang lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri? Dan mengapa orang melakukan hal tersebut? Yuk kita bahas sama-sama.

Apa Itu Altruisme?

Altruisme adalah istilah modern dari kata Empati, kata ini pertama kali diciptakan oleh seorang filsuf yang bernama Auguste Comte. Kata ini berasal dari bahasa Perancis yaitu Autrui atau yang dalam bahasa Latin disebut Alteri yang memiliki arti orang lain. Yap! Dari sini bisa dilihat bahwa kata ini menggambarkan orang lain sebagai fokus utama. Dimana altruisme ini berarti suatu perilaku yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain, perilaku ini diperkuat dengan keinginan serta tekad yang dimiliki untuk mencapai tujuan mensejahterakan orang lain. Tentu menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa mereka lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri? Apa yang mereka dapatkan dari perilakunya ini? Terlebih yang kita ketahui adalah orang yang memiliki perilaku altruisme murni menolong orang lain karena keinginan untuk membantu dan bukan karena merasa bahwa hal tersebut merupakan sebuah kewajibannya, atau karena alasan tertentu bahkan altruisme juga dikenal sebagai perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan imbalan tertentu.


Altruisme bisa jadi merupakan sebuah keadaan pikiran sesaat saja, atau bahkan perilaku ini dapat tumbuh menjadi cara atau value hidup seseorang. Pada intinya adalah altruisme merupakan keadaan pikiran yang baik hati dan didorong oleh perasaan prihatin terhadap orang lain. Kepedulian yang dimilikinya untuk mensejahterakan orang lain, dalam beberapa kasus tertentu, ditemukan bahwa perilaku ini dapat membahayakan kesejahteraan dan kesehatan diri sendiri. Tentu kita tahu bahwa hal yang berlebihan pasti tidak akan memberikan dampak yang baik bagi diri kita, begitu pula dengan perilaku altruisme yang berlebihan. Mengapa seseorang bisa begitu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri?

Mengapa seseorang selalu berbuat baik?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan membahasnya melalui beberapa aspek yang membuat seseorang bisa berbuat baik terhadap orang lain bahkan menomor duakan dirinya.

Respon Otak

Ternyata, ketika seseorang menolong orang lain atau melakukan perilaku altruisme, otak kita akan memberikan respon yang membuat kita merasa bahagia, karena perilaku ini sangat mempengaruhi afeksi kita. Untuk itu area otak yang aktif ketika menolong orang lain adalah amigdala dan korteks prefrontal. Area otak ini bertanggung jawab untuk mengatur emosi yang dimiliki oleh manusia. Ketika seseorang melakukan perilaku altruisme maka bagian otak ini akan memunculkan perasaan euforia atau disebut helper’s high dan mengaktifkan pusat reward di otak. Hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli neurobiologi yang menemukan bahwa ketika seseorang berperilaku altruisme akan membuat pusat kesenangan di otak menjadi aktif. Respon otak ini membuat mereka merasa bahagia hingga “ketagihan” ketika membantu orang lain.

Lingkungan

Sebuah studi yang dilakukan di Stanford University menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan dengan orang lain memiliki pengaruh yang besar pada perilaku altruisme. Ternyata hal ini adalah sesuatu yang telah banyak diperdebatkan oleh para peneliti khususnya psikolog, mereka mempertanyakan apakah seseorang dapat terlahir dengan kecenderungan untuk menolong orang lain, namun sebuah studi menemukan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh yang besar pada perilaku altruisme pada anak-anak. Anak-anak akan mengamati tindakan menolong dan menirunya. Meniru perilaku altruisme dapat mendorong seseorang melakukan hal serupa terlebih pada anak-anak yang memang mudah sekali meniru perilaku orang lain

Norma Sosial

Salah satu hal penting yang juga dapat mempengaruhi munculnya perilaku altruisme pada seseorang adalah norma, aturan, dan ekspektasi masyarakat sekitar. Manusia akan cenderung merasa gak enak, atau merasa “harus” membantu orang lain jika orang tersebut sudah melakukan sesuatu untuknya, ini merupakan contoh dari norma timbal balik. Perasaan ini yang ternyata dapat memunculkan keinginan untuk menolong orang lain. Namun perlu disadari juga bahwa altruisme merupakan perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu, jika hal tersebut dilakukan karena adanya perasaan tidak enak, kamu bisa coba menonton video dibawah ini

Imbalan secara Kognitif

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa perilaku altruisme merupakan perilaku menolong orang lain tanpa imbalan atau tanpa mengharapkan apapun. Tapi ada yang namanya imbalan secara kognitif. Imbalan ini berupa pandangan kita terhadap diri kita sendiri setelah membantu orang lain. Kita akan memandang diri kita sebagai orang yang baik dan berempati, dan tentunya ini akan memberikan perasaan yang nyaman untuk diri kita sendiri. Imbalan ini pun berkaitan dengan respon otak yang muncul ketika kita menolong orang lain.

Altruisme ini erat kaitanya dengan sesuatu yang banyak banget terjadi saat ini di sekitar kita, yaitu sulitnya mengatakan “tidak” atau yang biasa dikenal people pleaser. Apakah kamu juga termasuk seseorang yang selalu berkata “ya” kepada orang lain? Mungkin ketika membaca artikel ini kamu juga membayangkan dirimu yang selalu berusaha untuk menolong orang lain, atau yang selalu bersedia ketika ada teman yang meminta sesuatu padamu.


Namun, apakah yang kamu lakukan betul-betul murni karena ingin membantu dan membuat perasaanmu nyaman ketika melakukannya? Atau mungkin kamu hanya merasa tidak enak, takut dijauhi, takut tidak disukai, menginginkan pengakuan, sehingga ketika melakukannya membuat dirimu merasa tidak nyaman? Kamu perlu menyadari dulu hal ini, apakah yang kamu lakukan benar-benar perilaku altruisme atau hanya karena kamu adalah people pleaser.
Tentunya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang baik untuk dirimu, perilaku menolong yang seharusnya memberikan rasa nyaman, bahagia, malah membuatmu merasa tidak berdaya bahkan dapat mempengaruhi kesehatan mental. Jadi, kenali dulu apa yang sebenarnya kamu rasakan, tidak ada yang salah ketika kita memang selalu ingin membantu orang lain atau berbuat baik kepada orang-orang disekitar kita, namun kamu tetap harus memperhatikan diri sendiri juga ya, jangan sampai kita malah tidak berbuat baik pada diri kita sendiri.

Poster-Webinar

Okey, sekian dari aku hari ini. Terima kasih kamu sudah membaca artikel ini, semoga apa yang aku tulis dapat memberikan pencerahan dan pandangan baru tentang perilaku menolong atau altruisme ini.

Jangan lupa terus ikuti informasi-informasi menarik lainnya dari Satu Persen melalui Instagram di @satupersenofficial, suscribe channel Youtube Satu Persen, dan Blog Satu Persen untuk baca artikel menarik lainnya yang akan membantumu untuk berproses dan bertumbuh, setidaknya Satu Persen setiap harinya! Sampai ketemu di artikel berikutnya, thank you!


Referensi

Burton, N. (Mar 27, 2012). Does true altruism exist?. Retrieved on Oct 26, 2020 from https://www.psychologytoday.com/us/blog/hide-and-seek/201203/does-true-altruism-exist

Cherry, K. (Feb 08, 2020). How Psychologist Explain Altruistic Helpful Behaviour. Retrieved on Oct 26, 2020 from https://www.verywellmind.com/what-is-altruism-2794828

Brethel-Haurwitz, K & Marsh, A. (May 08, 2017) Why is it so hard to be Altruistic. Retrived on Oct 26, 2020 from https://www.psychologytoday.com/us/blog/goodness-sake/201705/why-is-it-so-hard-be-altruistic