Kamu sedang ngumpul bareng teman-teman, lalu kamu mengatakan bahwa kamu tidak setuju dengan sebuah sudut pandang.

Ah, lu gak open minded, deh!”

Pernah gak kamu denger kalimat itu? Atau mungkin, kamu yang mengatakan hal tersebut kepada temanmu? Cukup sering kurasa, istilah open-minded dipakai oleh hampir semua orang ketika sedang ngobrol. Meskipun sejatinya menjadi open-minded itu memiliki beberapa keuntungan, aku merasa kadang-kadang open-minded ini diartikan sebagai ‘menerima semua sudut pandang tanpa kecuali’. Sebenarnya itu tidak tepat, loh. Open-minded itu bukan semena-mena menerima segala sudut pandang yang diberikan padamu. Kamu bisa kok, berpegang teguh pada pendirianmu namun menoleransi hal-hal lain yang mungkin belum bisa kamu proses sepenuhnya.Lalu apakah dengan menjadi open-minded kita secara otomatis menjadi lebih tolerir? Untuk mengetahuinya lebih lanjut, mari kita melihat konsep open minded ini sedikit lebih dalam,

Apa itu Open mindedness?

Open mindedness merujuk pada kemampuan untuk berpikir fleksibel; menoleransi sudut pandang yang beragam atau bertentangan dan memperlakukan semua sudut pandang dengan sama, sebelum analisa dan evaluasi lebih lanjut; kemampuan menilai sudut pandang secara objektif tanpa prasangka apapun; terbuka terhadap umpan balik dan kritik konstruktif; dan mengeksplorasi ide-ide yang ‘tidak biasa’ (Dwyer, 2019). Sederhananya, menjadi open minded itu adalah ketika kita menjadi terbuka akan segala ide, sudut pandang, prinsip, dan hal-hal yang bisa saja bertentangan dengan apa yang kita percayai. Tentu saja, menjadi open minded tidak berarti kamu semerta-merta mengiyakan apapun yang dikatakan padamu. Kamu tetap bisa berpegang teguh pada pendirianmu sambil mempertimbangkan sudut pandang yang memungkinkan namun bertentangan dengan apa yang kamu percayai selama ini.

Menjadi open minded ada batasnya juga. Menjadi open minded juga bukan berarti bahwa kamu harus mempertimbangkan semua hal yang ada. Tetapi ketika kamu mencoba untuk berempati dan mengerti jalan pikiran orang lain, kamu akan membuka diri akan hal-hal yang positif.

Ciri-ciri orang yang memiliki pikiran yang terbuka dapat dinyatakan sebagai berikut: mereka memiliki rasa penasaran yang tinggi, mereka tidak marah ketika mereka salah, mereka rendah hati dengan ilmu yang mereka miliki dan memikirkan apa yang dipikirkan orang lain, dan mereka percaya serta ingin mengetahui sudut pandang orang lain (Cherry, 2020).

Menjadi open minded mungkin terdengar merepotkan, ya. Kamu harus selalu siap untuk menerima hal-hal baru yang tidak jarang sangat bertentangan dengan prinsip hidupmu. Ini mungkin terasa sulit bagi beberapa orang (aku pun terkadang merasa sulit!), namun menjadi open minded dapat memberikanmu dampak positif!

Kamu bisa mendapat wawasan dan pengalaman baru yang bisa kamu gunakan untuk menjadi orang yang lebih baik. Kamu bisa berkembang menjadi orang yang memiliki mental yang kuat, dan kamu dapat mempelajari hal-hal baru.

Kalau kamu tidak yakin akan keterbukaan pikiranmu, mungkin kamu bisa mencoba mengukurnya. Open mindedness berhubungan erat dengan Intellectual Humility, dan sekumpulan profesor dari Pepperdine University pada tahun 2016 menemukan empat aspek yang dapat mengukur intellectual humility-mu. Empat aspek tersebut adalah1) Menghargai sudut pandang orang lain, 2) Tidak over-pede dengan ilmu yang kamu miliki. 3) Memisahkan ego dan ilmu yang kamu miliki, 4) Kemauan untuk merubah sudut pandang.

Empat hal ini bisa menjadi tolak ukurmu dalam menilai keterbukaan pikiranmu. Coba, tanyakan pada dirimu sendiri, seberapa open minded-kah dirimu? Kalau sudah, mari kita bicara tentang hal berikutnya, yaitu toleransi.

Open minded dan Toleransi

Kurasa kamu pun punya pemahaman akan konsep toleransi, namun ketika kamu ditanya, apa itu toleransi? Apa yang akan kamu jawab?

Toleransi adalah sikap yang adil, objektif, dan permisif terhadap sesuatu (pendapat, agama, ras, sudut pandang, kewarganegaraan, dll) yang berbeda dengan apa yang kita miliki (Fish, 2014). Terdengar sederhana. Namun terkadang toleransi ini cukup sulit untuk terjadi, kenapa?

Di sinilah open mindedness berperan. Dengan memiliki kualitas diri yang memungkinkan kamu untuk terbuka dan menerima hal-hal baru, kamu akan lebih berkemungkinan untuk menoleransi orang lain.

Tapi ini bukan berarti bahwa menjadi open minded berarti kamu tolerir terhadap orang lain. Kamu bisa saja memiliki pikiran yang terbuka namun tidak tolerir. Kamu jadinya hanya mempertimbangkan hal-hal lain tanpa benar-benar mencoba untuk mengerti hal tersebut. Menjadi open minded menambah kemungkinan kamu menjadi tolerir, tapi itu bukan pertanda bahwa kamu tolerir. Kamu akan mengurangi tendensi untuk menjadi intoleran. Hm, kenapa ya, ada orang-orang yang intoleran?

Sejujurnya kedua konsep ini, open mindedness dan toleransi sering tumpang tindih. Keduanya membutuhkan dirimu untuk menghargai orang lain, untuk berani mencoba menentang prinsip hidupmu demi menjadi manusia yang lebih baik. Open mindedness dan toleransi sama-sama bertujuan untuk hidup berdampingan dengan harmonis. Mungkin jika disederhanakan, open mindedness itu adalah senjata dan toleransi adalah tindakan menembak itu sendiri, dalam melawan keburukan yang ada di dunia ini

Bagaimana Cara Menjadi Lebih Open minded, Lebih Tolerir?

Mulailah dengan dirimu sendiri! Cobalah untuk menerima hal-hal yang asing. Ingatlah selalu bahwa kamu tidak pernah tahu alasan orang lain melakukan sesuatu. Seringlah juga merenungi situasi atau orang yang tidak kamu sukai. Dengan melakukan ini, kamu bisa lebih mengerti akan hal yang tidak kamu setujui.

Lawanlah prasangka dalam dirimu. Kita semua memiliki confirmation bias dalam diri kita, (ini juga menjadi salah satu alasan kenapa orang-orang itu suka gampang percaya dengan teori konspirasi, loh! dan hal ini wajar. Dengan menyadari bahwa kamu memiliki prasangka tersebut, kamu bisa lebih sadar dalam memproses informasi. Jadilah lebih penasaran, tanyakan hal-hal yang kamu tidak tahu. Dengan begitu kamu bisa membuka jalan bagi informasi baru untuk masuk dan kamu akan bisa memproses informasi. Tentu saja ini akan memakan waktu bagi beberapa orang, so take your time!

Akhir kata, semoga tulisan ini berguna, ya! Kalau kamu tidak setuju, ingat, cobalah untuk menilai tulisan ini dengan objektif tanpa prasangka! Semoga kamu bisa memiliki pikiran yang lebih terbuka ya, setelah membaca ini! Aku pun belajar tiap harinya!

References

Anonymous. (2019, March 4). WHY IS BEING OPEN-MINDED IMPORTANT? Retrieved from Clevelad Clinic Abu Dhabi: https://www.clevelandclinicabudhabi.ae/en/health-byte/pages/why-is-being-open-minded-important.aspx

Cherry, K. (2020, March 30). The Benefits of Being Open-Minded. Retrieved from verywellmind: https://www.verywellmind.com/be-more-open-minded-4690673

Dwyer, C. (2019, April 26). Open-Mindedness and Skepticism in Critical Thinking. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/thoughts-thinking/201904/open-mindedness-and-skepticism-in-critical-thinking

Fish, J. M. (2014, February 25). Tolerance, Acceptance, Understanding. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/looking-in-the-cultural-mirror/201402/tolerance-acceptance-understanding

Snow, S. (2018, November 20). A New Way to Become More Open-Minded. Retrieved from Harvard Business Review: https://hbr.org/2018/11/a-new-way-to-become-more-open-minded

Wickman, G. (2011, May 4). HOW TO BECOME MORE TOLERANT. Retrieved from HealthGuidance: https://www.healthguidance.org/entry/15388/1/how-to-become-more-tolerant.html