autis-adalah
mengenal autis

Halo, Perseners! How’s life?

Kenalin, gue Hana. Gue di sini menulis sebagai associate writer dari Satu Persen.

Sebagai awalan, gue mau sharing ke kalian dulu nih.

Gue pernah punya pengalaman jadi anak homeschooling. Orang yang homeschooling itu kan jarang banget, ya? Mungkin lo masih ngerasa asing dan pernah bertanya-tanya, “Gimana sih rasanya homeschooling?”

Menurut gue, homeschooling itu enak, guys. Emang sih, rutinitasnya jadi beda banget sama anak sekolah biasa. Tapi, perbedaan itulah yang bikin gue punya pengalaman tersendiri.

Gue pernah kenalan sama anak-anak homeschooling lain yang diajar sama guru gue.  Gue ketemu berbagai macam anak, dari yang mengalami kesulitan belajar, penyandang disabilitas, sampe anak autis.

Dari situ gue tahu kalo setiap anak emang dilahirkan berbeda-beda. Dan terlepas dari perbedaan itu, kita semua sama-sama hebat, kok.

Nah, anak yang autis ini unik banget. Saking uniknya, gue keinget terus sampe sekarang. Dia sibuk baca buku sambil ngoceh entah apa, padahal dia belum bisa baca.

Pas gue coba ajak ngomong, jawabannya gak jelas. Tapi, dia cuma ngucapin satu kalimat yang sama terus-menerus.

Karena anak ini, gue jadi penasaran. Autis itu kondisi yang seperti apa sih? Apakah mereka punya dunianya sendiri? Apakah dunianya itu menarik?

Mungkin lo juga kepengen tahu. Well, karena itu, di artikel ini gue bakal mengulas seputar autisme.

Apa itu autis?

Secara umum, autis (atau yang sering juga disebut autisme) merupakan gangguan perkembangan saraf dalam otak, di mana penderitanya memiliki masalah berkomunikasi, bersosial, dan pola perilaku yang gak seperti anak-anak biasanya.

Anak dengan gangguan autis bisa ditemukan di negara mana aja, tanpa memandang perbedaan ras, budaya, atau faktor lain. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki ketimbang perempuan, dengan perbandingan 4:1.

Autis merupakan kelainan yang gak bisa disembuhkan, tapi biasanya orang tua membawa anak mereka untuk terapi supaya kondisinya membaik. Terapi bisa berupa terapi perilaku, terapi bermain, terapi fisik, terapi berbicara, dan lain-lain.

Setiap anak autis membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Untuk itu, mereka perlu diagnosa terlebih dulu.

Menurut peneliti, penyebab pasti autisme masih belum diketahui. Akan tetapi, faktor yang mungkin memengaruhi risiko autisme dapat berupa pengaruh genetik, kelainan pada otak, infeksi atau racun dari lingkungan, berat badan lahir rendah, dan metabolisme yang gak seimbang.

Gejala awal autis biasanya muncul sebelum anak memasuki usia taman kanak-kanak, tapi bisa juga lebih cepat maupun lambat. Tentunya, penanganan sedini mungkin itu lebih baik.

Nah, gejala seperti apa sih yang biasanya dimiliki oleh anak autis?

Gejala yang pasti ditemukan pada anak autis

Sebelumnya, gue udah bilang kalau setiap anak autis itu berbeda-beda. Tapi, terdapat gejala dasar yang dimiliki oleh semua anak autis. Menurut DSM-5, gejala autisme dibagi menjadi dua kategori, yaitu masalah komunikasi dan pola perilaku.

1. Masalah komunikasi dan interaksi sosial anak autis

Anak autis biasa ditemukan sulit melanjutkan percakapan, gak membagikan emosi atau minatnya kepada orang lain, sulit menjaga kontak mata dan membaca bahasa tubuh, serta sulit memelihara hubungan.

2. Masalah pola perilaku anak autis

Sedangkan, masalah pola perilaku pada anak autis dapat berupa gerakan atau pola bicara berulang, suka asyik sendiri sama minatnya, dan kurang atau terlalu peka sama pengaruh sensorik di sekitarnya.

Gambar oleh Venita Oberholster dari Pixabay

Selain itu, ada beberapa gejala lain yang mungkin juga dimiliki oleh anak autis, seperti gangguan intelektual, kemampuan berbahasa yang lambat, masalah motorik, dan memiliki ukuran kepala yang besar.

Tapi, gak semua anak autis memiliki gejala tambahan ini. Jadi, gak perlu nunggu semua gejalanya muncul. Kalo ada anak yang udah menunjukkan dua gejala dasar tadi, sebaiknya mereka segera dibawa ke tenaga profesional, ya!

Bagaimana cara berinteraksi dengan anak autis?

Meskipun anak autis memiliki kelainan yang gak kita punya, bukan berarti kita gak bisa saling berkomunikasi, lho!

Gak ada salahnya berinteraksi sama mereka,. Justru kitalah yang harusnya menyesuaikan diri dan mengajak mereka buat berbaur sama kita. Apalagi kalo anak autis itu merupakan bagian dari keluarga, pastinya kita harus saling mengenal dan menjaga keakraban, kan?

Karena anak autis gak sama dengan kita, mereka gak bisa diperlakukan sama seperti kita menyikapi anak-anak biasa. Mungkin gara-gara itu lo jadi punya pertanyaan, “Terus, gimana caranya supaya bisa ngobrol sama mereka?”.

Nah, bagus banget kalo lo udah punya keinginan supaya buat beradaptasi sama mereka. Menurut artikel yang pernah gue baca, ada beberapa cara berinteraksi sama anak autis yang mungkin bisa lo coba.

1. Bersikap baik dengan anak autis

Pada dasarnya, kita emang harus selalu berbuat baik, entah sama anak biasa maupun anak autis. Perilaku anak autis yang gak biasa mungkin bikin lo bingung.

Nah, sebenernya anak biasa juga keliatan aneh di mata anak autis. Gue harap di sini lo udah bisa nangkep bahwa anak biasa dan anak autis itu emang dilahirkan berbeda.

Kalo mau menjembatani perbedaan itu dengan bersikap baik dan memaklumi, lo udah selangkah lebih baik. Daripada komentarin hal-hal yang gak bisa dilakukan sama anak autis, mending lo apresiasi setiap pencapaian mereka.

2. Sabar menghadapi anak autis

Anak autis gak dilahirkan dengan kemampuan komunikasi yang sama kayak kita. Jadi, wajar aja kalo kadang mereka menyampaikan perasaan dengan cara yang gak bisa kita pahami.

Kalo udah begini, mau gak mau lo harus berbesar hati dengan bersabar. Jangan panik, cemas, apalagi sampe marah-marah. Dengerin mereka tanpa sikap yang tergesa-gesa. Cepat atau lambat, lo tetap punya kesempatan buat bisa ngerti apa maksud mereka.

Baca Juga: Cara Mengontrol Emosi (Regulasi Emosi Diri Sendiri)

3. Buat anak autis mendengarkan apa maksud kita

Kalo sama anak biasa, mungkin lo bisa pasang wajah bete untuk memperlihatkan bahwa lo lagi marah sama mereka.

Tapi, anak autis gak bisa paham gestur isyarat semacam itu, guys. Mereka juga gak bisa secepat itu untuk paham budaya basa-basi dan sopan santun dalam bermasyarakat.

Jadi, kalo ada perlakuan anak autis yang kurang sesuai, sebaiknya lo to the point aja. Gak usah banyak basa-basi atau nyindir terselubung, tapi jangan pake emosi juga.

Ajari mereka dengan cara yang baik. Kalo sikap lo udah tepat, pelan-pelan anak autis juga bisa ngerti, kok!

memahami-anak-autis
Gambar oleh Hatice EROL dari Pixabay

Pada akhirnya, menangani anak autis itu emang gak semudah yang kita bayangkan. Wajar banget kalo kita merasa kesulitan, gak tahu harus ngelakuin apa lagi, dan malah berujung stres karena kewalahan. Mungkin lo juga bingung kalo mau cerita ke orang lain karena mereka juga awam sama masalah ini.

Nah, psikolog dari Satu Persen mungkin bisa membantu lo menjadi orang tua atau caregiver yang lebih siap mental menghadapi anak autis. Lo bakal diajarin caranya melatih kesabaran, manajemen stres, dan membuka insight yang lebih luas mengenai anak autis. Dengan begitu, lo bisa lebih baik dalam menangani mereka.

Oke, segitu dulu tulisan gue. Semoga informasi yang gue bagikan dalam artikel ini bisa bermanfaat buat lo, baik bagi yang membutuhkan maupun yang pengen nambah pengetahuan. Gue harap, kita bisa merangkul sesama terlepas dari perbedaan yang ada.

Tentunya, mencoba memahami orang lain yang kondisinya berbeda bikin lo ikutan berkembang juga. Yuk, sama-sama berproses menjadi lebih baik! Pelan-pelan aja, seenggaknya Satu Persen setiap hari menuju #HidupSeutuhnya :)

Akhir kata, thanks a million!

CTA-Konsultasi--1--1

Referensi

Harvard Health Publishing. (March, 2019). Autism (Autism Spectrum Disorder). Retrieved on January 14, 2021 from https://www.health.harvard.edu/a_to_z/autism-autism-spectrum-disorder-a-to-z.

Cherney, K. (March 8, 2019). Everything You Need to Know About Autism. Retrieved on January 14, 2021 from https://www.healthline.com/health/autism.

Garcia, A. (April 18, 2019). Read This If You Don't Know How to Talk to Someone Who Has Autism. Retrieved on January 15, 2021 from https://www.healthline.com/health/autism/dear-neurotypical-guide-to-autism.