Ingat gak, dulu? Kamu pernah coret-coret buku teman sebangkumu sewaktu SD. Terus dia balas mencoret bukumu.

“Tapi coretanmu lebih banyak!” kamu mengeluh dengan kesal lalu merampas buku temanmu untuk kau balas coret lagi. Hal yang sama berulang-ulang, saling balas-membalas sampai Guru yang sedang mengajar mendengar suara kalian, lalu menegur kalian.

“Dia yang mulai duluan!” kata temanmu.

“Tapi coretannya lebih banyak! Aku ‘kan gak sebanyak itu!” lalu kalian berdebat sampai akhirnya guru kalian yang melerai.

Sederhana dan lucu ya, kalau diingat-ingat. Kalau kalian gak pernah, baguslah, berarti kalian orangnya baik hati dan tidak suka membalas dendam. Walaupun ini bukan tolak ukur yang bagus, sih, hahaha.

“An eye for an eye will make the world blind”

Pasti kalian tidak asing dengan quote tersebut ‘kan? Yap, kali ini kita akan berbicara tentang balas dendam, secara umum, tentu saja. Membalas dendam mempunyai kenikmatan tersendiri, kata orang-orang. Aku pun kadang menikmati ketika aku berhasil mengambil kulit ayam temanku yang tadinya memajaki kentang gorengku saat dia berjalan dari meja kasir ke meja makan. Namun dalam skala yang lebih besar, apakah balas dendam sejatinya baik untuk kita?

Apakah membalas dendam adalah jawabannya? Apakah dengan membalas dendam kita akan merasa lebih baik?

“Tentu saja! Mereka pantas mendapatkannya!” pikirmu, mungkin.

Well, let’s get started, then!


Apakah Hanya Orang Jahat yang Balas Dendam?

Tidak, tidak, tentu saja tidak. Keinginan untuk balas dendam adalah respon yang cukup natural ketika kamu merasa dirugikan. Kalau kamu masih ragu, seorang Psikolog Evolusi bernama Michael McCullough dari University of Miami mengatakan bahwa konsep marah dan ingin membalas tindakan seseorang yang menyakiti kita itu sudah meresap di seluruh manusia dari seluruh jenis masyarakat  (Hogenboom, 2017).

“Duh semoga dia ga kenapa-kenapa deh” katamu dengan nada yang sarkastik (ha! Pasti pernah ngomong gitu ‘kan? Mungkin saja tidak, sih). Ya, banyak hal mungkin pernah membuatmu ingin balas dendam, beberapa hal bahkan pernah membuatmu berpikir apakah kamu overreacting dengan keadaan sehingga ingin membalas dendam?

Tenang saja, normal kok untuk memiliki keinginan membalas dendam. Walau kencenderungan membalas dendam banyak dimiliki oleh orang yang tidak suka dipermalukan, terobsesi terhadap kuasa, atau keinginan akan status sosial (Price, 2009), boleh, kok, kita berkeinginan untuk membalas dendam. Yang lebih penting untuk kamu pikirkan itu sebenarnya bukan hal ini.


Balas Dendam: Lega atau Memperburuk Keadaan?

Menurut Dan Ariely, ketika seseorang ingin membalas dendam, bagian otak yang berhubungan dengan perasaan yang rewarding menjadi sangat aktif. Semakin besar keinginan atau bahkan kejadiannya, semakin besar pula dampaknya. Hal ini menimbulkan rasa senang dan kepuasan  (Hall, 2013). David Chester dari Virginia Commonwealth University juga menemukan hal yang sama, bagian otak yang berhubungan dengan kepuasan menjadi aktif saat seseorang ingin membalas dendam atau sudah membalas dendam. Hasilnya sangat memuaskan, duka emosional ketika seseorang disakiti bisa langsung tergantikan dengan kesenangan ketika kamu membalas dendam. Menurut Chester, bertindak agresif setelah terprovokasi itu memuaskan secara duniawi. (Hogenboom, 2017).

Oke. Terdengar bagus. Lalu apakah hanya sampai di sana?

Tidak semudah itu, Ferguso (udah lama ya, tidak baca kalimat ini? Dead meme kah?)

Walaupun membalas dendam memiliki efek yang menyenangkan, perlu kamu ingat bahwa membalas dendam adalah sebuah fenomena yang luas dengan efek, pemantik, dan efek samping yang berbeda-beda. Menurut Eric Jaffe, ketika kamu membalas dendam dan berhasil, terkadang kamu berpikir bahwa ketika orang yang menyakitimu paham bahwa kamu membalas dendam (satu lagi aspek yang membuat balas dendam terasa memuaskan), kamu sudah selesai, kamu puas, dan bahwa mereka hanya dapat “sedikit” dari apa yang kamu rasakan. Yang kadang tidak kamu sadari adalah bahwa terkadang orang tadi akan menganggap pembalasan dendammu berlebihan, lalu berlanjut pada siklus yang tampaknya tidak akan berakhir (Hall, 2013)

Maka dari itu, sejatinya tindakan balas dendam adalah hal yang harus kamu pikirkan matang-matang. Kalau dalam skala kecil seperti mengalahkan temanmu dalam game yang kalian mainkan, mungkin kamu boleh-boleh saja membiarkan emosimu mengambil alih. Namun dalam skala yang lebih besar, balas dendam itu seperti pedang bermata dua. Perlu bagi kamu, aku, dan kita semua untuk lihai memahami emosi dan perasaan. Aku punya video bagus untuk kamu soal memahami emosi diri sendiri (dan orang lain).

Konseling-Mentoring-Psikolog-Satu-Persen-4

Bagaimana Cara Balas Dendam yang ‘Baik’?

Ketika kamu tidak membalas dendam, kamu dapat mengatakan pada dirimu bahwa “Ah, ini ternyata tidak sebesar itu.” dan move on dengan hidupmu. Tentu saja, tidak selalu seperti ini kejadiannya. Walau waktu terbukti menurunkan urgensitas kamu untuk balas dendam, terkadang ada kalanya kamu terus merasa harus membalas dendam. Tapi kamu harus ingat, ketika kamu membalas dendam, kamu memiliki kemungkinan untuk terus memikirkan hal tersebut plus pembalasan dendam yang sudah kamu lakukan  (Price, 2009). Ini bisa menjadi gawat  untukmu, lho.

Lalu sebaiknya kamu bagaimana? Setelah meditasi dan bertapa sekian lama, kamu masih tidak bisa melepaskan hasrat untuk membalas dendam. Oke, tidak apa. Berarti ada baiknya kamu tahu sisi baik dari balas dendam, agar kamu bisa berpikir lebih lanjut lagi akan keputusanmu.

Ada tiga bentuk fungsi balas dendam yang baik, menurut McCullough dan rekan-rekannya. Pertama adalah bahwa dengan balas dendam, orang yang dulunya menyakitimu atau orang lain yang melakukan hal yang sama akan mendapatkan efek jera ketika ada orang yang membalas perbuatannya. Kedua, setelah membalaskan dendam, kamu dapat “diacungi jempol” karena sudah membalaskan dendammu akan perbuatan yang tidak baik. Ketiga sedikit lebih rumit, namun jika dijelaskan secara singkat, efek dari balas dendam dapat membuatmu melakukan hal yang baik (Jaffe, 2011).

Sedikit rumit ya, yang ketiga. Sederhananya, anggaplah kamu dan tetanggamu bergiliran berjaga malam agar rumah kalian tidak diserang binatang buas. Ketika kamu tertidur saat giliran jagamu, binatang buas itu dapat membunuh keluarga tetanggamu. Tetanggamu dapat menyalahkanmu akan keteledoranmu dan menganggap kamulah yang membunuh anaknya. Ancaman akan balas dendam ini akan membuatmu tetap bangun saat giliran jagamu (Jaffe, 2011).

Begitulah garis besarnya. Bukan berarti aku mendukung kalian untuk selalu membalas dendam, ya, hehe. Hanya saja kamu harus selalu berpikir benar-benar, tujuan dari balas dendammu, apakah kamu yakin kamu harus membalas dendam, dan akibat-akibat yang mungkin terjadi. Untungnya otak kita memiliki kemampuan untuk melakukan deep thoughts terkait alasan dan tindakan impulsif (dalam hal ini, balas dendam). Semoga kamu selalu berpkir dua, tidak, seribu kali ya sebelum membalas dendam! Kalau kamu penasaran soal menghadapi konflik batin, kamu bisa cek video ini.

Balas Dendam yang Sehat!

Ada beberapa hal yang patut kamu coba ketika kamu sedang berkeinginan untuk membalas dendam.

Tenangkan dirimu dan berpikirlah dengan rasional

Ingat, keinginan membalas dendam seringnya adalah perasaan yang impulsif. Revenge is a dish best served cold. Dinginkan kepalamu, pikirkan semuanya baik-baik. Cari tahu apakah benar kerugian yang kamu alami tidak bisa dibenarkan? Kumpulkan semua faktanya, ceritakan ke orang yang merugikanmu (kalau memungkinkan), mungkin mereka bisa meminta maaf

Fokus kepada hal yang positif

Klise banget, ya? Gunakan emosi yang kamu rasakan ketika ingin balas dendam untuk hal-hal yang positif. Balas dendamlah dengan elegan: menjadi sukses. Memperbaiki diri. Bangkit lagi dan menjadi lebih kuat. Lihat kesalahan dan keburukan di masa lalu dan ubahlah menjadi kekuatanmu. Energi yang kamu dapatkan dari ingin membalas dendam itu bisa diarahkan untuk hal-hal yang positif!

Lebih ekstrim lagi, percayalah bahwa semua orang bisa mengkhianatimu

Jika kamu sudah percaya dan yakin akan hal tersebut, ketika kamu disakiti atau dirugikan, kamu akan bisa lebih mengatur emosimu. Bukan berarti kamu jadi trust issue pada semua orang ya, hanya saja, kamu butuh untuk ragu sebelum percaya. Ngomong-ngomong trust issue, Satu Persen punya video yang bagus untuk kamu tonton, tentang trust issue itu sendiri dan juga tentang tips menghadapinya!.

Akhir kata, semoga artikel ini berguna untukmu ya! Jika kamu sedang ingin membalas dendam, aku harap kamu memikirkan kembali keputusanmu, caramu membalas dendam, dan efeknya bagi kamu ke depannya. Avenge yourself when needed, not when you feel like it. Jadi keingat Avengers-nya Marvel, nih.

Kalau kamu mau cek tulisanku yang lain, aku sedang menulis cerita di wattpad, judulnya LIGHT dan aku memiliki LINE Official Account tempatku menulis (ID: @ans3035i) Terima kasih banyak!

References

Edwards, V. V. (n.d). The Psychology of Revenge: Why It’s Secretly Rewarding. Retrieved from Science of People: https://www.scienceofpeople.com/the-psychology-of-revenge/

Hall, K. (2013, September 15). Revenge: Will You Feel Better? Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/pieces-mind/201309/revenge-will-you-feel-better

Hogenboom, M. (2017, April 3). Revenge serves a very useful purpose – even the idea of seeking it gives us pleasure. Why is this? Retrieved from BBC Future: https://www.bbc.com/future/article/20170403-the-hidden-upsides-of-revenge

Jaffe, E. (2011, October 4). The Complicated Psychology of Revenge. Retrieved from Association for Psychilogical Science: https://www.psychologicalscience.org/observer/the-complicated-psychology-of-revengePrice, M. (2009, June). Revenge and the people who seek it. Retrieved from American Psychological Association: https://www.apa.org/monitor/2009/06/revenge