Pernahkah kamu membayangkan dirimu memasuki suatu ruangan berisikan orang-orang yang kamu anggap pintar, stylist, dan supel? Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu merasa bersemangat, tidak sabar ingin ngobrol dan bertukar cerita dengan mereka? Atau, kamu merasa sebaliknya, merasa tidak percaya diri berada di antara mereka dan ingin pulang saja?

Kalau kamu merasa yang pertama, bagus! Kamu memiliki kepercayaan diri yang baik. Jika sebaliknya, hati-hati, berarti kamu sedang terserang minder.

Sebenarnya, minder itu apa, sih?

Minder adalah perasaan saat kamu tidak yakin akan kemampuanmu. Kamu secara nggak sadar menganggap dirimu tidak akan cukup untuk mencapai suatu target tertentu.

Perasaan seperti ini membuatmu berpikir kamu tidak layak diperhitungkan orang lain. Kamu jadi khawatir akan kemampuanmu dan secara tidak sadar, selalu membanding-bandingkan diri orang lain yang justru membuatmu semakin down. Kamu nggak berharap banyak lagi soal dirimu sendiri, bahkan sangat mungkin kehilangan hasrat menggebu-gebu untuk mencapai mimpi dan cita-citamu. Bahayanya, akibat dari rasa kecewa dan sedih karena rasa minder ini membuat kamu jadi nggak bisa punya semangat untuk melakukan apapun.

“Toh, aku nggak akan bisa jadi lebih baik dari ini”

“Aku mah apa atuh dibanding dia, nggak ada apa-apa-nya deh!”

“Aku nggak punya kemampuan dan nggak bisa apa-apa”

Dan kumpulan pernyataan-pernyataan negatif lain yang memenuhi kepalamu. Jelas, pernyataan-pernyataan ini dapat membuatmu tak bersemangat lagi untuk berusaha dan menjadi lebih baik. Bahaya banget, kan?

Lantas, apakah sebenarnya rasa minder itu wajar?

Jawabannya, sangat wajar. Menurut Matrin E. Ford, merasa minder pada waktu-waktu tertentu adalah bagian dari kebiasaan normal manusia. Jadi, kamu tidak perlu menyangkal perasaanmu kalau kamu lagi minder. Namun, hal yang menjadi pembeda antara minder yang wajar dan yang tidak adalah cara merespon rasa minder tersebut.

Kalau rasa minder justru memotivasimu untuk berlatih lebih baik agar dapat meningkatkan kemampuanmu, tentu ini dapat disebut rasa minder yang baik. Rasa minder yang baik membuatmu menjadi semakin bersemangat untuk ngobrol dan menjalin relasi bareng orang-orang keren, sekaligus belajar dari pengalaman mereka.

Sebaliknya, kalau rasa minder malah membuatmu iri dan ingin menjatuhkan orang lain, tentu kamu harus waspada. Rasa minder yang buruk tidak memberimu semangat untuk menjadi lebih baik, tetapi justru membuatmu tidak ingin mencoba sama sekali dan malah menyalahkan orang lain dan keadaanmu.

Gejala minder yang negatif

Buat self-check, berikut ini beberapa tanda-tanda kamu sedang terkena gejala minder yang negatif menurut ahli:

Hanya fokus kepada hal negatif

Aku terlalu gemuk. Aku tidak berbakat. Aku tidak beruntung.

Kata-kata negatif semacam inilah yang menguasai pikiranmu sehingga kamu sulit untuk mengingat-ingat “apa sih kelebihanku?” Buatmu, kamu adalah yang terburuk.

Karena merasa tidak hebat dan berkemampuan, kamu rentan merasa bersalah dan malu dengan dirimu sendiri. Perasaan ini, nih yang kemudian membuatmu jadi menjauh dari lingkungan pergaulan, bahkan dari keluargamu sendiri. Kamu rentan merasa malu jika orang lain berhasil menemukan ketidakmampuanmu dan tidak ingin merepotkan orang lain karena merasa tidak diandalkan.

Mencari perhatian dan persetujuan orang lain

Karena kamu tidak merasa kamu memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, kamu jadi merasa membutuhkan persetujuan dan perhatian orang lain untuk merasa sebaliknya.

Mencari perhatian orang lain dapat menjadi negatif jika kamu berulang kali membual untuk mencari simpati. Selain itu, kamu jadi kehilangan kepercayaan diri sama sekali. Kecuali jika ada orang yang menyatakan sebaliknya kepadamu.

Meremehkan orang lain

Ternyata, rasa minder juga bisa menimbulkan respon negatif lain, lho! Perasaan gagal yang menumpuk dalam dirimu dapat tersalurkan melalui berbagai macam sikap. Salah satunya adalah dengan meremehkan orang lain. Hal ini terjadi karena kamu juga merasa diremehkan, setidaknya oleh dirimu sendiri.

Merasakan perasaan minder yang mendalam bisa jadi membuat kamu tidak ingin merasakannya sendirian sehingga kamu meremehkan orang lain juga. Jika kamu punya kebiasaan ini, kamu harus berhati-hati mendeteksi penyebabnya, nih!

Menjaga diri tetap di zona nyaman

Kamu sangat takut jika harus berada di dalam situasi di mana orang lain dapat secara langsung membandingkan dirimu dengan orang lain, contohnya di dalam perlombaan.

Kamu tidak lagi ingin mengambil risiko untuk gagal karena kegagalan hanya membuatmu mempertanyakan kemampuanmu lagi. Kamu menjaga dirimu sendiri tetap berada dalam zona nyaman dan bertahan di sana, melakukan hal-hal yang kamu tahu dapat kamu lakukan dan bersama orang-orang yang kamu kenal.

Sebenarnya, apa sih yang bisa menyebabkan minder?

Secara umum, penyebab minder dapat berasal dari dalam dirimu dan dari lingkunganmu. Dari dalam diri, tidak dapat dipungkiri, faktor keturunan juga memiliki peran dalam membuatmu rentan terhadap minder. Buat kamu yang memiliki variasi reseptor hormon oxytocin, hormon emosi positif, dapat lebih sulit merasa optimis dan percaya diri.

Namun, selain itu, ternyata faktor lingkungan juga berpengaruh besar terhadap tumbuhnya rasa minder, lho. Lingkungan di sekitarmu dan orang-orang yang kerap berinteraksi denganmu sangat berpengaruh membentuk pola pikirmu terhadap kekurangan dan kelemahan.

Di dalam keluarga yang suka mengkritik dan melabeli satu sama lain sebagai “bodoh”, “ceroboh”, dan “tidak mampu melakukan apapun”, anak-anak cenderung tumbuh menjadi sosok yang minder dan selalu meragukan kualitas dirinya sendiri.

Ditambah lagi, kehadiran berbagai macam standar baru yang beredar di sosial media membuatmu semakin tidak yakin dengan dirimu sendiri. Kamu merasa tidak cukup tampan dan tidak cukup keren jika dibandingkan orang-orang lain yang berseliweran di sosial mediamu. Kamu nggak lagi mampu melihat bagaimana kehidupan tiap orang dapat berbeda-beda dan mengetahui jalan hidup yang kamu benar-benar inginkan.

Kamu nggak sadar akan seberapa penting dan uniknya dirimu sendiri hanya karena melihat orang lain yang berbeda denganmu mendapat begitu banyak pengakuan di sosial media. Kamu selalu melihat ke atas, melihat kepada orang-orang yang lebih sukses darimu, sehingga lupa untuk melihat ke bawah dan bersyukur atas segala yang telah kamu miliki hingga saat ini.

#27 - Cara Jadi Percaya Diri - Satu Persen Podcast

Bagaimana cara yang tepat untuk lepas dari rasa minder?

Tentu, buatmu yang ingin hidup dipenuhi emosi positif, selalu ada jalan untuk terlepas dari rasa minder. Penasaran apa aja? Yuk, kita coba bahas satu persatu!

Menerima perasaan dan menyangkal pikiran negatif

Merasa minder itu wajar kok. Semua orang yang kamu anggap keren itu juga pernah merasa minder dalam hidupnya. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah jika berpikiran demikian. Jangan terjebak menjadi sosok yang denial akan perasaan tersebut.

Sebaliknya, belajarlah menerima perasaan minder yang kamu rasakan dari waktu ke waktu adalah bagian dari prosesmu untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Kemudian, kamu juga sebaiknya tidak melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang hitam putih. Kamu melihat dirimu sebagai sosok yang sukses jika sudah mencapai standar tertentu dan tidak sama sekali jika tidak berhasil mencapainya. Akibatnya, kamu jadi mudah merasa buruk kepada dirimu sendiri dan berakhir merasa minder. Padahal, tiap orang punya proses, waktu, dan perjalanannya masing-masing.

Selain itu, yang tak kalah penting, jangan menganggap seluruh opinimu sebagai fakta. Jika kamu merasa kamu payah dalam melakukan suatu hal, itu tidak berarti kamu orang yang bodoh. Jika kamu berpikir orang lain mencemoohmu karena keteledoranmu, belum tentu itu faktanya.

Sebelum benar-benar menerima opini tersebut, tak ada salahnya untuk mengecek kembali, misalnya dengan mengingat-ingat kelebihan dan keberhasilan yang sudah kamu capai atau menanyakan kepada teman-teman dekat yang kamu percaya untuk meminta pendapat mereka atas keteledoranmu tadi.

Memberikan afirmasi kepada diri sendiri

Pernah dengar peribahasa “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”? Yap, peribahasa ini sering sekali menjangkiti hidup kita. Mau sebanyak apapun pencapaian yang kamu dapatkan, sulit untuk merasa benar-benar cukup jika tidak dimulai dari diri sendiri. Seringkali berdiri berdampingan dengan orang lain membuat kita merasa tidak cukup baik sehingga penting banget buatmu mengingat pencapaian-pencapaian lain yang sudah kamu miliki selama ini.

Kamu harus ingat bahwa tiap-tiap orang punya “panggung”-nya masing-masing. Minder dalam waktu-waktu tertentu memang wajar, tetapi bukan berarti itu membuktikan kamu tidak berharga atau tidak sehebat dirinya. Penting untuk meluangkan waktu mengingat pencapaian yang telah kita dapatkan, sekaligus mengapresiasi diri karena telah bertahan.

harga-diri--penting

Seni untuk bersikap bodo amat (Filosofi Teras)

Salah satu faktor yang membuat kita jadi suka minder adalah pengertian kita yang sempit soal sukses. Kita sering banget melekatkan sukses kepada pencapaian orang tertentu. Misalnya kamu beranggapan bahwa A sukses dan A suka main musik. Alhasil, kamu jadi merasa kamu harus bisa main musik dulu untuk jadi sukses. Padahal, kesuksesan itu sangat beragam, lho bentuknya. Menekuni minatmu saat ini dengan baik dan konsisten juga bisa membuatmu sukses.

Hal lain yang bisa membuatmu minder adalah ketika mendengar masukan dari orang lain. Sering banget nih, kamu merasa diserang secara personal. Bahkan merasa tidak kompeten melakukan suatu hal, karena baru saja mendapatkan masukan dari orang lain.

Padahal, masukan yang datang bukan untuk menyerangmu secara personal, melainkan untuk membantumu meningkatkan kemampuan dan menjadi lebih baik. Penting banget nih untuk memastikan kamu punya growth mindset dalam menghadapinya. Growth mindset itu apa sih? Cek di sini aja.

Lepas dari rasa minder memang bukan perkara mudah. Namun, bukan hal yang mustahil buatmu mengubah rasa minder menjadi hal yang lebih positif. Semoga artikel ini bisa membantumu lebih paham soal minder dan cara menanganinya. Mau tahu lebih banyak soal strategi menangani minder? Kamu bisa tonton video dari Satu Persen di sini.

Tak lupa, sambil mencari-cari sumber dari rasa mindermu sebelum benar-benar menanganinya, kamu harus waspada nih jika penyebabnya disebabkan oleh inner child-mu atau memori saat kamu kecil. Untuk tahu lebih dalam apa sih itu innerchild, kamu bisa cek di sini. Lengkap banget ya layanan Satu Persen? Makanya, jangan lupa untuk terus cek kegiatan Satu Persen di sini. Akhir kata, semoga artikel ini membantumu agar lebih baik dan terlepas dari rasa minder, setidaknya Satu Persen setiap harinya, menuju #HidupSeutuhnya. Ciao!

Referensi

Alberts, N., Connolly, M., Ellin, A., & Newsome, M. (2020). What Is an Inferiority Complex? Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment: EverydayHealth. Retrieved November 12, 2020, from https://www.everydayhealth.com/emotional-health/understanding-inferiority-complex/

Tyrrell, M. (2019, August 04). 5 Tips for Treating Inferiority Complex. Retrieved November 12, 2020, from https://www.unk.com/blog/5-tips-for-treating-inferiority-complex/

Sumber Gambar

https://unsplash.com/photos/Z_UALBboBHE