cerpen Kita

Aku tidak tahu akan seperti apa hubungan kita ini selanjutnya, aku juga tidak tahu kamu memiliki keinginan yang bagaimana, kita ini dua manusia dengan keterbatasan dan perbedaan latar belakang dalam hidup. Kamu dengan sejuta pikiranmu dan aku dengan anganku. Apakah kita bisa sama-sama untuk saling mengerti agar tak saling menyakiti?

Memikirkan langkah selanjutnya yang harus aku lakukan agar tak saling menyakiti sama saja dengan memegang sebilah pisau tanpa bilah. Bagaimana bisa aku akan menyakitimu sedangkan melihatmu tersakiti aku pun ikut sakit. Mari sama-sama bersepakat untuk saling memaafkan dengan gejolak lalu yang begitu banyak menyita dan menyiksa diri kita sendiri.

Apakah aku terlalu sentimental hingga aku seperti ini? Ataukah peka rasa yang kita saling punya sudah tumpul dan perlu diasah lagi dengan rentetan, gejolak, kerikil dan duri? Mungkin ini jalan yang paling baik yang sebaiknya kita ambil. Semua kembali lagi pada perasaan kita masing-masing. Sebab ini semua bukan tentang mereka, bukan tentang dunia, ini semua hanya mengarah pada satu tujuan: aku dan kamu. Dan bahagia yang selalu saja kita coba cari lewat kisah, kasih, dan petualangan.

Teruntuk kekasihku, usahlah kamu merinduku, sebab bagaimana bisa kamu merindu jikalau aku dan kamu adalah satu. Meski dalam penyatuan aku dan kamu terjadi guncangan dan tubrukan berbagai isi kepala tapi toh kenyataannya kita tetap akhirnya bersama. Aku sendiri yakin, baik aku maupun kamu sama-sama tak ingin pisah. Baik aku maupun kamu sama-sama ingin tetap menyatu.

Teruntuk kekasihku, tak perlu kamu mencintaiku sebab bagaimana bisa kamu mencintai jikalau aku dan kamu adalah cinta. Meski cinta kita berat, menguras emosi dan berbagai macam dilema, galau, pertikaian tapi toh pada akhirnya kita tetap ingin bersama. Aku sendiri yakin baik aku maupun kamu sama-sama masih memiliki cahaya cinta yang menggelora.

Tapi waktu benar mengujiku, aku mesti melawan waktu yang maju mengikis jarak kita, menciptakan bosan, mengundang kejenuhan. Aku yakin kamu pasti juga merasakan hal yang sama seperti diriku. Lalu apa yang akan menjadi pegangan kita bersama?

Banyak hal telah aku baca, aku jadi sadar bahwa cinta saja ternyata tidak cukup untuk melanggengkan sebuah hubungan, koreksi aku jika keliru. Sebab seberapa lama sih cinta akan bertahan? Tapi kenapa kedua orang tua kita masih bisa bersama hingga bertahun-tahun? Ternyata ketika cinta di antara mereka mulai memudar, ada komitmen, janji, perasaan bersama yang telah mereka jalin dan itu semua menurutku akan lebih kuat dari sekedar cinta.

Matahari segera tenggelam di kotaku, aku tahu jarak kita memang sejauh ini, aku tahu kita hanya bisa bersua lewat suara dan bertatap lewat layar kaca handphone. Tapi percayalah kepadaku, selama kita memiliki cinta dan seabrek komitmen, janji dan perasaan bersama, kita akan baik-baik saja.