menerima diri: terbebas dari tendam
self-acceptance

Halo, Perseners! How’s life?

Kenalin, nama gue Hana. Gue di sini menulis sebagai associate writer dari Satu Persen.

Dalam kesempatan kali ini, gue mau bahas mengenai self-acceptance dan apa hubungannya dengan kekurangan diri. Tapi, sebelumnya gue mau tanya dulu nih sama lo.

Apa sih kelebihan lo?

Apakah lo bisa sebut satu-satu dengan percaya diri?

Meskipun udah sewajarnya kalo kita adalah orang yang paling kenal sama diri sendiri, mungkin banyak dari lo yang malah kesulitan jawab pertanyaan itu. Barangkali, gak ada satu pun kelebihan diri yang terpikirkan, karena isi kepala lo lebih dipenuhi sama kekurangan yang dipunya.

Orang lain sering bilang kalo kita harus terima diri apa adanya. Sayangnya, kalo lagi ngomongin penerimaan diri—atau yang bisa disebut self-acceptance—kadang kita terlalu fokus sama kekurangan sampe lupa buat ngomongin kelebihan diri.

Padahal, dalam proses self-acceptance itu sendiri, kelebihan diri juga gak kalah penting buat lo eksplorasi lebih jauh. Tentunya, lo itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan.

Nah, sebenernya self-acceptance itu berarti mengenali dan menerima keduanya. Dengan begitu, action lo bisa lebih optimal dalam mengatasi kekurangan yang ada.

Supaya lo gak semakin salah kaprah sama istilah self-acceptance dan bisa bangkit dari kekurangan yang lo punya, gue bakal bahas selengkapnya di artikel ini.

Apa itu self-acceptance?

Menurut APA Dictionary of Psychology, self-acceptance berarti mengakui, menerima, dan menghargai pencapaian maupun keterbatasan diri. Masih dari sumber yang sama, self-acceptance juga disebut sebagai komponen utama kesehatan mental suatu individu.

Artinya, orang yang mengenal kelebihan dan kekurangan serta berlapang dada menerimanya bisa jadi udah menerapkan self-acceptance dengan baik.

Kalo ditanya soal kekurangan, mereka gak malu atau merasa rendah diri buat mengakuinya. Mereka juga pede sama kelebihan yang mereka miliki. Sehingga, mereka bisa lebih berdamai sama diri sendiri dan gak terus-terusan merasa cemas.

Gak jarang juga, orang yang punya self-acceptance justru menjadikan kekurangannya sebagai komedi dan bisa menghibur banyak orang. Kalian yang sering nontonin komika pasti udah gak asing sama materi stand-up comedy yang ngebahas kekurangan diri.

Dari situ, terlihat bahwa dengan self-acceptance pula, kita jadi bisa paham kalo punya kekurangan itu gak selalu buruk. Bukannya gak mungkin bagi seseorang untuk menyiasati kekurangannya menjadi suatu kelebihan.

Terus, gimana dengan orang yang belum mampu melakukan self-acceptance?

Mungkin lo adalah salah satunya. Dan itu gak apa-apa banget, Perseners. Karena di sini kita bakal belajar bareng cara bersahabat dengan kekurangan yang kita punya.

1. Memulai self-acceptance dengan bikin daftar kelebihan dan kekurangan diri

Ambil buku atau selembar kertas, terus bagi menjadi dua kategori. Abis itu, lo bisa coba tulis kelebihan dan kekurangan lo secara terpisah. Proses ini bisa jadi gak gampang, karena mungkin lo mengalami kesulitan pas mikirin apa kelebihan lo, atau sebaliknya.

Kalo udah selesai, coba refleksi. Mana yang lebih sulit lo lakukan, nulis kelebihan atau kekurangan? Apakah lo sulit nulis kelebihan karena kepercayaan diri lo kurang? Atau apakah lo sulit nulis kekurangan karena lo masih cenderung denial?

2. Menerima kekurangan dengan self-acceptance sebagai awal untuk mengembangkan diri

Memang ada beberapa kekurangan yang udah gak bisa diapa-apain lagi, contohnya kekurangan fisik. Tapi, ada juga yang bisa diperbaiki. Kalo ada kaitannya sama skill, biasanya masih bisa diusahain dengan latihan terus.

Misalnya, lo kurang pandai public speaking, sedangkan tuntutan pekerjaan memaksa lo untuk bisa. Faktanya, public speaking itu bisa banget dilatih terus sampe jago. Di sini lo punya kesempatan belajar nih, supaya bisa lebih berkembang lagi.

Baca Juga: Public Speaking: Kenapa Itu Penting dan Bagaimana Cara Melatihnya?

3. Self-acceptance juga bikin lo tahu apa kelebihan lo

Dari daftar tadi, lo bisa melihat bahwa lo itu gak cuma berisi kekurangan aja. Lo juga punya kelebihan. Misalnya, mungkin lo gak terlalu bisa dandan, tapi lo asik banget diajak cerita. Nah, gunain aja kelebihan diri lo secara efektif supaya lo tetep bisa survive.

Masih belum tahu kelebihan lo? Tenang, Satu Persen punya tes gratis yang bisa ngebantu lo mengenal kelebihan diri. Yuk cobain tesnya di sini.

4. Punya self-acceptance membuat lo berpikir lebih realistis

Setelah menerima kelebihan dan kekurangan, terima juga bahwa manusia itu gak bisa jadi sempurna. Pada akhirnya, mungkin lo masih ada kurangnya. Inget aja kalo kelebihan dan kekurangan itu ada supaya lo bisa terus belajar dan bertumbuh.

Inget juga untuk jangan membandingkan diri lo sama orang lain. Lo sama dia tuh memang dilahirkan berbeda, jadi wajar aja dong kalo kelebihan dan kekurangannya gak sama? Jangan lupa buat realistis, ya!

5. Support system yang menemani proses self-acceptance

Keberadaan support system itu penting banget, Perseners. Rasanya bakal lebih nyaman komunikasiin kegalauan lo sama orang terdekat. Selain ngasih lo semangat, bisa jadi mereka pandai melakukan sesuatu yang lo gak bisa dan siap buat bantu kesulitan lo.

Bisa jadi juga, kekurangan lo sama temen lo kebetulan sama. Jadinya kan, kalian bisa sharing dan belajar bareng. Seenggaknya, lo bisa tahu bahwa yang punya kekurangan itu gak cuma lo aja, kok.

Apa gunanya membangun self-acceptance?

Tentunya, self-acceptance bikin lo jadi lebih kenal sama kelebihan dan kekurangan yang lo punya. Jadinya, lo bisa tahu mana yang bisa lo lakukan, mana yang perlu dilatih dulu.

Selain itu, lo juga bisa lebih berdamai dengan fakta bahwa lo gak akan bisa lepas dari yang namanya kekurangan. Tentunya, ini berdampak baik buat kesehatan mental lo.

Self-acceptance juga berperan penting dalam interaksi sosial lo, Perseners. Lo bakal jauh lebih percaya diri dan mudah diterima sama orang lain. Lo bisa menerima bahwa setiap orang memang diciptakan berbeda-beda.

Buat lo yang udah waktunya lamar pekerjaan, self-acceptance menjadi sesuatu yang penting. Pertanyaan tentang kelebihan dan kekurangan diri itu pasti ada, deh.

Nah, pada akhirnya lo perlu eksplorasi diri sendiri supaya interview lo berhasil, kan?

ekplorasi diri unto self-acceptance
i think therefore i am

Kalo lo udah punya self-acceptance, pasti ada beberapa karakteristik diri lo yang berbeda dari sebelumnya.

Tentunya, lo akan tampil lebih positif, optimis, dan sehat mental. Interaksi lo dengan orang lain juga akan baik, karena self-acceptance meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan lo dalam menghadapi kritik maupun penolakan.

Selain itu, kalo lo mau menerima diri sendiri, lo bakal jauh lebih mudah untuk berkembang. Lo udah tahu di mana letak kekurangan lo, jadi lebih mudah untuk memetakan gimana cara mengatasinya.

Kenyataannya, mengakui kekurangan diri itu bukan proses yang mudah. Tapi, dari situlah keberanian lo muncul. Akhirnya, lo bakal lebih berani untuk ambil kesempatan dan senantiasa nyobain hal-hal baru.

Self-acceptance itu ibarat kunci untuk merasa puas sama diri sendiri. Pastinya, bakal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh kalo lo mau belajar membangun self-acceptance.

Jadi, kenapa self-acceptance itu perlu?

Pada dasarnya, lo itu berharga kok, Perseners. Kekurangan gak bikin lo jadi orang yang payah. Lo tetep keren abis, terlepas dari kekurangan yang lo punya.

Tapi, kalo lo gak mau menerima diri lo yang seperti itu, mau gue bilang lo hebat seribu kali pun jadi gak terlalu ada pengaruhnya buat lo. Yang ada lo malah mikir, “Ih, gue mah gak ada bagus-bagusnya. Palsu banget sih pujiannya!”. Alias lo gak percaya kalo lo itu hebat.

Jadi, konsep diri lo yang keren atau gak keren, semuanya berasal dari diri lo sendiri.

Penilaian dari orang lain gak selamanya bisa bikin lo percaya diri terus. Kalo lo menerapkan self-acceptance, lo bakal tahu sendiri bahwa keberadaan lo itu emang pantas diterima.

Tentunya, gue juga paham kalau self-acceptance ini gak mudah buat dilakukan. Lo mungkin merasa agak kehilangan arah pas lagi mengenali diri lo. Kalo gara-gara itu lo malah semakin merasa kesulitan, gue bisa bantu ngasih solusi nih buat lo.

Lo bisa coba ikutan mentoring Satu Persen, di mana lo akan dibantu supaya lebih terarah dalam memahami dan menyelesaikan masalah. Di situ, lo bakal dibimbing sama mentor terlatih dan dikasih fasilitas berupa worksheet serta psikotes. Kalo lo masih kebingungan memahami kelebihan maupun kekurangan lo, boleh banget tanya-tanya soal itu ke para mentor.

Satu Persen juga punya video YouTube tentang cara menerima kekurangan diri. Recommended banget buat lo yang lagi belajar menerapkan self-acceptance. Semoga membantu, ya!

Menerima Kekurangan Diri

Segitu dulu tulisan gue. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi lo untuk terus belajar menerima diri. Gue harap kita bisa sama-sama berkembang. Gak perlu langsung banyak, seenggaknya Satu Persen setiap harinya menuju #HidupSeutuhnya.

Akhir kata, thanks a million!

Referensi

Akbar H. 2013. Meningkatkan Penerimaan Diri (Self-Acceptance) Siswa Kelas VIII Melalui Konseling Realita Di SMP Negeri 1 Bantarbolang Kabupaten Pemalang Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang: Semarang.

Hibbert, C. (September 18, 2013). “These Are My Strengths!” & “This Is My Lame-O List!”: How to Embrace Strengths And Weaknesses. Retrieved on December 19, 2020 from https://www.drchristinahibbert.com/these-are-my-strengths-this-is-my-lame-o-list-how-to-embrace-strengths-weaknesses/

Self-Acceptance. (2020). In APA Dictionary of Psychology. Retrieved from https://dictionary.apa.org/self-acceptance

Referensi gambar

Gambar oleh John Hain dari Pixabay.