Halo Perseners! Apa kabar? Gimana perasaan kamu saat ini? Aku harap kamu semua yang membaca ini sedang dalam kondisi baik dan perasaan yang baik.

Sebelumnya kenalin aku Alya, sebagai  Blog Writer dan Content Research Intern di Satu Persen. Ini adalah tulisan pertamaku di Blog Satu Persen. I hope you like it :)

Di tulisan pertamaku ini, aku akan ngebahas tentang pengaruh pola pengasuhan orang tua dengan hubungan romantis kamu saat dewasa serta apa sih sebab akibatnya?

Tulisan ini cocok banget buat kamu yang ingin bisa lebih aware terhadap diri sendiri dan orang-orang sekitar kamu. Kenapa lebih aware? Karena jika kamu peduli dengan diri kamu sendiri, kamu bisa memahami diri kamu lebih baik, sehingga kamu bisa mengembangkan diri menjadi sosok yang lebih baik. Pada akhirnya, kamu bisa membantu orang lain juga.

Jadi, dibaca sampai habis ya!

Sejujurnya, inspirasi tulisan ini aku dapat setelah menonton video youtube Tretan Universe yang pembicaranya adalah Hasan Askari, seorang Mental Health Counselor from Ace Human Resource Surabaya dan Anya  Geraldine, seorang public figure, yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kalian.

Nah, di dalam video tersebut ada bagian Anya menceritakan kehidupan yang dia alami. Bahwa orang tua Anya sudah cerai sejak umurnya 5 tahun, lalu setelah perceraian itu, Anya tinggal bersama mama dan adiknya. Tapi, Anya mengatakan bahwa dia lebih dekat kepada adiknya karena mamanya yang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan jarang memperhatikan Anya juga adiknya.

Anya juga cerita bagaimana dia menjalin hubungan dengan pasangannya. Anya mengatakan bahwa dia selalu menanyakan ke pacarnya “kamu sayang aku ga?” “sayangnya sekarang atau kemarin lebih sayang yang mana?” dan hal itu tanyakan hampir setiap hari ke pasangannya.  

Setelah itu, munculah pernyataan Hasan mengenai kondisi Anya saat ini mungkin akibat dari attachment style, yang terdiri dari hubungan anak dengan orang tua serta pola asuh mereka.  

Photo by Xavier Mouton Photographie on Unsplash

ATTACHMENT STYLE THEORY

Sebelumnya, kamu sudah pernah dengar tentang attachment style theory? Nah pengasuhan orang tua dan anak ini dijelaskan pada attachment theory yang pertama kali disusun oleh John Bowlby pada tahun 1937.

Singkatnya, attachment merupakan ikatan emosional yang kuat antara dua orang. Bisa disimpulkan kalau attachment theory merupakan teori yang mengacu pada suatu relasi atau hubungan antara dua orang yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan melakukan banyak hal untuk melanjutkan hubungannya.

Misalnya, seorang anak yang mempunyai orang tua yang sangat menyayangi anaknya, menghampiri anaknya saat menangis dan lapar akan membentuk emosi yang kuat pada anak tersebut. Anak akan merasa terlindungi dan merasa aman karena terpenuhinya kebutuhan dari figur seorang orang tua.

Teori inilah yang menekankan pentingnya kehadiran figur orang tua, baik ayah maupun ibu, di hidup anak serta bagaimana pola asuh bisa mempengaruhi perkembangan anak kelak, bahkan hingga kehidupan romansa di usia dewasa kelak. Apabila orang tua tidak mampu membangun hubungan yang kuat dengan anak, bahkan sesimpel kadang menghampiri anak kadang tidak ketika mereka sedang menangis, dapat membuat anak mengembangkan beberapa sifat cemas, penakut, bingung dan bahkan sampai ke gangguan psikologis karena merasa tidak bisa mempercayai orang tua mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka sepenuhnya. Kadang, pemikiran ini juga bisa terbawa hingga anak mencapai usia dewasa dan berpasangan.  

Photo by Laura Furrman on Unsplash

Perpisahan dan kehilangan merupakan sebagian aspek yang dapat mempengaruhi terbentuknya attachment style. Perceraian orang tua membuat merasa tidak dekat dengan ibunya, oleh karena itu kemungkinan Anya mengembangkan perasaan tidak aman dan sulit percaya dengan orang lain, atau insecure attachment style.

Attachment style theory disini dapat dibagi dua yaitu secure attachment dan insecure attachment. Seperti bahasanya, aman dan tidak aman. Seorang anak dapat dikatakan memiliki secure attachment style apabila dia merasa mendapat kasih sayang dari orang tua yang cukup, dan karena hal inilah yang membuat anak dapat berhubungan baik serta positif dengan pasangan di waktu dewasanya.

Sementara itu, insecure attachment style dapat muncul apabila seseorang merasa kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua, hal inilah yang berkontribusi kepada kesulitan mereka untuk berhubungan di usia dewasa, seperti kasus Anya Geraldine tadi.

“Saya sering khawatir pasangan saya tidak benar-benar mencintai saya, sehingga saya selalu menanyakan apakah dia masih mencintai saya atau tidak setiap harinya”
“Saya selalu merasa ingin dekat dengan pasangan saya sehingga ini membuat teman-teman pasangan saya menjauh”

Perkataan-perkataan di atas merupakan contoh seseorang dengan insecure attachment style, yang selalu merasa takut ditinggal oleh pasangannya.

Salah satu peneliti yang fokus mengenai attachment, Kim Bartholomew menyebutkan terdapat tiga attachment style yang dapat terjadi selain secure attachment style. Di teori ini, Bartholomew memecah insecure attachment style menjadi tiga bagian, yang terdiri dari fearful-avoidant, anxious-preoccupied, dan dismissive-avoidant.

-Fearful-avoidant Attachment
Attachment style ini membuat seseorang cenderung mempunyai pandangan yang negatif terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Mereka menghindari penolakan dengan menghindari hubungan dekat dengan orang lain. Misalnya, merasa ragu dalam hubungan romantis, serta mengambil jarak dengan pasangannya.

-Anxious-Preoccupied Attachment
Orang dengan attachment style ini cenderung mempunyai pandangan negatif terhadap diri sendiri, tetapi masih berharap agar orang lain menerima dan mencintai dirinya. Contoh perilaku yang biasanya muncul adalah selalu mencari penerimaan dari pasangannya, emosional, dan pencemburu.

-Dismissive-Avoidant Attachment
Pada attachment style ini, seseorang cenderung mempunyai karakter positif dalam memandang diri sendiri, mandiri akan tetapi, menolak berada di dalam hubungan. Misalnya, cenderung merasa sudah cukup dan tidak butuh lekat dengan orang lain.

Oke, mari kita kembali lagi ke cerita Anya Geraldine yang kita bahas di awal tadi.

Sebagaimana disebutkan di awal, Anya memiliki kecemasan karena takut apabila pasangannya kelak akan meninggalkannya. Secara tidak sadar, hal inilah yang membuat Anya selalu bertanya terhadap pasangannya “kamu masih sayang aku nggak?” dan melihat dari sejarah dan tentu kemungkinan besar ini dipengaruhi oleh pengasuhan Anya sewaktu kecil. Perceraian dan tidak merasa dekat dengan Ibu, inilah yang mungkin menyebabkan kecemasan serta takut untuk ditinggal Anya tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi anxious-preoccupied attachment style.

ANXIOUS-PREOCCUPIED ATTACHMENT

Di kesempatan kali ini, aku bakal banyak bahas soal anxious-preoccupied attachment style ini. Tetapi, sebelum masuk pembahasan, aku mau tanya dulu, menurut kamu hubungan romantis itu seperti apa sih?

Apakah yang selalu memberikan kabar setiap saat? Atau yang seperti Anya lakukan kepada pasangannya apakah dia masih mencintainya setiap hari?

Pada dasarnya bentuk hubungan romantis setiap orang tentunya berbeda-beda, tergantung bagaimana kedua individu tersebut menjalaninya. Umumnya sih hubungan romantis itu adalah aktivitas bersama yang dilakukan oleh sepasang kekasih, saling bertukaran pikiran ke arah yang lebih intim.

Tetapi, tidak jarang juga kalau hubungan romantis menjadi tidak sehat. Misalnya, pasangan yang posesif, sering curiga, mengekang dan lain sebagainya. Beberapa hal ini yang dapat membuat kita merasa tidak nyaman di dalam hubungan tersebut.

Ciri-ciri yang disebutkan sebelumnya merupakan salah satu hasil dari gaya pengasuhan yang membuat anak merasa cemas dan mengembangkan pola anxious-preoccupied attachment. Karena intinya, sifat posesif, sering curiga, serta mengekang, merupakan perilaku yang timbul karena cemas serta takut kehilangan.

Perilaku meminta validasi serta pengakuan masih sayang dan cinta, seperti yang Anya lakukan, juga merupakan salah satu perilaku yang melibatkan emosi cemas dan takut kehilangan. Oleh karena itu, di video tersebut, Hasan juga berpendapat demikian, bahwa apa yang Anya rasakan dan alami dengan pacarnya, kemungkinan besar dipengaruhi oleh anxious-preoccupied attachment style tersebut.

Nah, bagi kamu yang ada di posisi ini, perlu diketahui jika pengaruh kecemasanmu tidak seluruhnya dipengaruhi oleh attachment style serta gaya pengasuhan orang tua. Bisa saja penyebab kecemasan yang kamu alami berasal dari lingkungan sekitarmu yang tidak berkaitan dengan pola asuh kamu sewaktu kamu kecil. Contohnya aja, kamu pernah diselingkuhi oleh pasanganmu di usia dewasa ini juga bisa berpengaruh, sehingga akhirnya kamu merasa selalu curiga dan cemas.

Attachment style juga bisa berubah, yang tadinya kamu mempunyai insecure attachment style mungkin dengan seiring berjalannya waktu kamu akan mempunyai secure attachment style dan begitupun sebaliknya.

Semakin manusia bertumbuh semakin berkembang juga pikiran dan pengalamannya. Banyak pengaruh-pengaruh yang bisa dikaitkan dengan attachment style terhadap pasanganmu. Kamu berhak dan bisa berubah karena itu adalah pilihan hidup kamu.

Jika kamu merasa memiliki insecure attachment style, dalam hal ini keseluruhan yang aku sebut tadi, ketahuilah kalau hal tersebut bisa diubah, seperti yang aku sebutkan tadi juga.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu gunakan untuk mengatasinya :

1.     Sadari dirimu

Kalau kamu sudah membaca tulisanku sampai sini, aku harap kamu sudah lebih memahami dirimu sendiri. Jadi, kamu bisa coba menanyakan ke diri sendiri, “Kira-kira attachment style apa ya yang aku miliki?” Biasanya kita bisa mulai menemukannya dengan bertanya serta melakukan refleksi ke diri sendiri. Kamu juga bisa menonton video Satu Persen yang berjudul “Ketika Masa Kecilmu Mempengaruhi Caramu Menjalin Hubungan” untuk memahami mengenai attachment-attachment style yang ada lebih lanjut.

2.     Berbicara dengan pasangan atau orang sekitarmu

Setelah kamu tau attachment style yang kamu miliki dan kamu menemukan bahwa kamu memiliki insecure attachment style, tidak apa-apa. Hal itu bukan berarti kamu adalah seseorang yang buruk kok dan ingat, attachment style ini masih bisa diubah. Kenali serta komunikasikanlah secara perlahan dan jelas dengan pasangan atau dengan orang terdekat mengenai hal-hal yang menjadi ekspektasi kamu di dalam sebuah hubungan.

3.     Temui tenaga profesional

Setelah berhasil mengetahui sebab akibat dan mengkomunikasikannya ke orang lain, tidak ada salahnya untuk mulai memperbaiki diri menjadi sosok yang baik. Memang, proses untuk memperbaiki serta mengembangkan diri membutuhkan proses serta waktu, dan itu tidak apa-apa. Bahkan tidak ada salahnya juga jika kamu mencoba mencari bantuan, seperti layanan konsultasi bersama Mentor Satu Persen.

Selain mendapatkan sesi konsultasi one-on-one bersama Mentor, kamu juga akan mendapatkan tes psikologi, dan worksheet. Keseluruhan layanan tersebut bisa kamu gunakan untuk mengenali attachment style kamu, yang akan membantumu untuk berkembang menjadi diri yang lebih hebat. Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa cek di Instagram Satu Persen @konsultasi.satupersen atau klik banner di bawah ini ya!

Sekian dari tulisanku ini semoga dapat menambah wawasan dan bisa memahami diri juga kehidupan ini menjadi lebih baik.

Thank you 😊

***

Poster-Webinar-2

Referensi

Maulanski. (2016, September 2). Definisi Kelekatan - Attachment: Variabel Psikologi. Psikologi Hore

https://www.google.co.id/amp/s/psikologihore.com/definisi-kelekatan-attachment/amp/

Novietha I. Sallama. (Edisi Ketigabelas). (2012). Life-Span Development by John W. Santrock. Penerbit Erlangga

Sumber Gambar

https://unsplash.com/photos/MRWHSKimBJk

https://unsplash.com/photos/73OJLcahQHg