Bayangkan, kamu sedang mempersiapkan diri mengikuti sebuah perlombaan. Kamu menghabiskan waktu siang hingga malam untuk berlatih—menajamkan kemampuanmu untuk bersaing dalam perlombaan itu. Namun, sayangnya, kamu tidak berhasil menjadi juara. Kamu melihat sekelilingmu, orang-orang terlihat kaget dan berusaha keras menghiburmu.

Apa kata-kata penghiburan yang kamu duga akan mereka sampaikan? "Tenang, kamu sudah bagus kok. Hanya saja, dia terlalu berbakat," ujar seseorang. "Semangat, kamu hanya kurang beruntung saja," ujar yang lain.

Kamu mendengar banyak kata penghiburan semacam itu. Lalu, kamu mulai merasa lebih baik dan yakin bahwa kegagalan ini bukan salahmu. Kemudian, satu orang menghampirimu lagi dan berkata, "Performamu memang tidak sebagus dia. Kamu harus berlatih lebih keras".

Bagaimana tanggapanmu? Tanggapanmu bisa bervariatif, tetapi berangkat dari satu hal: Mindset.

Tunggu, sebenarnya apa itu Mindset?

Mindset adalah suatu konsep yang kita percayai—sebuah konsep yang mempengaruhi cara kita memandang atau menyikapi suatu hal. Ketika suatu hal terjadi dalam hidupmu, seperti contohnya kegagalan dalam ilustrasi di atas, mindset adalah penentu caramu melihat hal tersebut, memaknainya, dan menindaklanjutinya. Oleh karena itu, mindset adalah hal yang berpengaruh besar:  hal yang mempengaruhi kebiasaan dan tindakan sehari-hari, kemampuan dalam belajar, dan kepuasan dalam hidup.

Meskipun banyak teori lain yang telah lahir dan berkembang, teori mindset milik Dweck adalah yang paling populer. Psikolog Carol Dweck (2006) mempopulerkan teori mindset berdasarkan perbedaan pandangan terhadap asal dari kemampuan kita. Beberapa orang percaya bahwa kemampuan terlahir dari bakat—sesuatu yang menetap dalam diri kita sejak awal dan tidak dapat berubah. Mindset seperti ini disebut fixed mindset. Sementara itu, banyak orang yang mempercayai bahwa kemampuan dapat terus bertumbuh dan berkembang jika kita terus melatihnya, disebut dengan growth mindset.

Fixed vs. Growth Mindset

Dalam membedakan dua tipe mindset di atas, kita dapat melihatnya dari beberapa aspek. Berikut adalah beberapa aspeknya:

1. Perbedaan dalam menerima umpan balik dan kritik

Seseorang dengan fixed mindset beranggapan bahwa kemampuannya berasal dari bakat yang tidak bisa lagi diubah. Oleh karena itu, ia hanya ingin umpan balik yang positif terhadap apa yang ia lakukan. Umpan balik itu dianggap sebagai bukti dari bakat yang ia miliki, bukan sebagai bahan pertimbangan untuk berusaha menjadi lebih baik. Sementara itu, orang dengan growth mindset mampu menerima umpan balik, baik positif maupun negatif, sebagai gambaran dari kemampuannya yang sebenarnya dan sebagai sarana untuk berkembang lebih baik di kemudian hari.

2. Perbedaan dalam menghadapi kegagalan

Dalam menghadapi kegagalan, orang dengan fixed mindset cenderung lebih fokus terhadap fakta tersebut. Kegagalan dianggap sebagai bukti ketidakmampuan dalam suatu bidang dan melahirkan kesadaran untuk tidak lagi melakukan hal itu. Muncul pernyataan seperti, “Aku tidak berbakat dalam bidang desain” atau “Aku bukan sosok yang atletis, aku tidak akan bisa berlari sejauh itu” sebagai upaya menghindarkan diri dari hal-hal yang berpotensi menyebabkan kegagalan. Karena kita pernah gagal dalam hal itu, kita memutuskan untuk tidak berusaha mencoba lagi. Mungkin, jika kita lihat secara jangka pendek, hal itu membantu menghindarkan kita dari pahitnya rasa gagal. Namun, secara jangka panjang, hal itu menghambat kita untuk berkembang menjadi lebih baik dalam hal itu. Akibatnya, mungkin selamanya kita tidak akan berhasil menguasainya.

Sebaliknya, dengan growth mindset, kita percaya bahwa dengan kerja keras dan metode berlatih yang baik, kita dapat mencapai suatu keahlian. Oleh karena itu, kegagalan adalah kesempatan untuk mengetahui hal-hal yang dapat dikembangkan dari diri kita. Di dalam kompetisi, misalnya, kita mampu mendapatkan input langsung dari penilai maupun input tidak langsung dari karya atau performa pemenang lomba tersebut untuk meningkatkan kemampuan kita. Masukan tersebut dapat kita jadikan bahan belajar untuk menjadi lebih baik. Seorang dengan growth mindset menyadari bahwa kegagalan adalah juga bagian dari pembelajaran dan setiap orang tentu harus merasakan gagal.

3. Perbedaan dalam mencapai keberhasilan

Ketika beroleh keberhasilan, orang-orang dengan fixed mindset menganggapnya sebagai bukti dari bakat mereka. Mereka pun cenderung take it for granted —beranggapan bahwa keberhasilan akan selalu datang sehingga tidak lagi berkeinginan menjadi lebih baik. Sebaliknya, bagi orang-orang dengan growth mindset, keberhasilan dianggap sebagai pencapaian dari kerja keras mereka. Mereka melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan tantangan dan melampaui batasan mereka di kemudian hari.

mindset
Photo by Young on Top

Menurutku, dalam kaitannya dengan ilustrasi di atas, ketika kita memiliki fixed mindset, kita kemungkinan memberikan dua reaksi: reaksi sedih dan kecewa karena terbukti tidak berbakat dalam hal tersebut atau lega dan mengatributkan kegagalan kepada lawan yang dinilai “terlalu berbakat”. Kita menganggap kompetisi yang kita ikuti sedari awal tidak adil karena ada yang lebih diuntungkan dari yang lain, dalam hal ini lebih berbakat. Kedua hal ini membuat kita terlalu memperhatikan siapa yang patut dipersalahkan atas kegagalan ini, bukan mengapa kita gagal dan apakah yang dapat diperbaiki dari diri kita berkaitan dengan kegagalan tersebut. Sebaliknya, orang dengan growth mindset menganggapnya sebagai peluang untuk menemukan kekurangan dan memperbaikinya di kemudian hari.

Apa Keuntungannya?

Setelah kita mengetahui perbedaan dari dua jenis mindset tersebut, kita bertanya-tanya, apa sih keuntungannya hidup dengan growth mindset?

1. Mengurangi rasa tertekan karena kegagalan

Ketika kita memiliki growth mindset, kita tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari pembelajaran. Kita tahu bahwa kegagalan dapat membuktikan penguasaan dan kemampuan kita dalam suatu hal. Oleh karena itu, kita tidak lagi menganggap kegagalan sebagai suatu hal yang permanen atau identik dengan diri kita secara personal. Kita bisa berhasil suatu saat nanti jika kita mau belajar dari kegagalan-kegagalan yang mengiringi prosesnya.

2. Meningkatkan kemampuan diri

Dengan growth mindset, kita tidak lagi takut memberikan tantangan baru untuk diri kita. Itu karena kita tahu, bahwa kegagalan adalah proses untuk mencapai keberhasilan. Bahkan, ketika kita berhasil, kita juga tidak segan meminta umpan baik lain untuk terus menjadi lebih baik.

3. Menciptakan hubungan yang sehat dengan orang lain

Dengan memiliki growth mindset, seseorang tidak lagi menjadi defensif terhadap umpan balik dari orang lain. Kita mau menghargai segala umpan balik yang kita terima untuk dapat berkembang melampaui batasan kita. Orang-orang yang mengkritik tidak lagi dianggap sebagai lawan, tetapi sebagai kawan belajar. Akibatnya, hubungan dengan orang lain pun semakin baik kualitasnya.

Cara Menumbuhkan Growth Mindset

Lalu, bagaimana caranya menumbuhkan growth mindset dalam diri kita? Berikut beberapa langkah-langkahnya!

1. Menerima kritik secara terbuka

Kita harus mulai melihat kritik sebagai media belajar untuk menjadi lebih baik. Orang lain melihat diri kita dari perspektif yang lain daripada diri kita sendiri dan hal itu membuatnya dapat memberikan masukan yang bermanfaat untuk perkembangan diri. Dengan berhenti melihat kritik sebagai serangan terhadap pribadi serta mulai terbuka dengan hal itu, kita dapat menumbuhkan growth mindset.

2. Menghargai proses daripada hasil

Hasil baik maupun buruk penentunya bukan hanya dari diri kita. Oleh karena itu, kita sebaiknya belajar fokus kepada pengembangan diri kita sendiri, bagaimana kita terus belajar menuju yang lebih baik dari sebelumnya. Ketika fokus kita demikian, kita akan memusatkan energi kita untuk memberikan usaha optimal. Jika pun kita menghadapi tantangan maupun kegagalan, kita memaknainya sebagai proses menuju hal yang lebih baik. Untuk lebih lanjut memahami mengenali kegagalan, Satu Persen sudah menyiapkan artikel khusus untuk kamu

Bahkan ketika kita merasa belum berhasil mencapai suatu hal, dengan pola pikir mengedepankan proses daripada hasil, kita akan semakin menyadari bahwa setiap orang dengan kapasitasnya sendiri akan berhasil mencapai itu cepat atau lambat. Dengan konsistensi untuk terus berlatih, kita tentu dapat mencapainya.

3. Belajar dari pengalaman orang lain

Belajar bisa dari mana saja, termasuk dari pengalaman orang lain. Oleh karena itu, penting itu mengesampingkan gengsi untuk bertanya dan berbagi dengan teman-teman sekitar. Dengan berbagi ilmu, kita dapat belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang lain dalam suatu hal sehingga kita dapat lebih baik dalam menghadapi hal tersebut. Tak hanya itu, pembelajaran ini dapat membuat kita menjadi lebih percaya diri untuk mencoba hal baru dan melewati batasan diri kita.

Jadi, bagaimana denganmu? Siapkah kamu melampaui batasan-batasan dirimu dengan growth mindset? Tonton video di bawah ini dan kenali lebih dalam mengenai growth mindset. Semoga artikel-artikel ini dapat membuatmu belajar satu persen setiap harinya. Semangat berproses menuju hidup seutuhnya.

Referensi

Clear, J. (2020, February 04). Fixed Mindsets vs Growth Mindsets: How Your Beliefs Change Your Behavior. Retrieved July 24, 2020, from https://jamesclear.com/fixed-mindset-vs-growth-mindset

Davis, T. (2019, April 11). 15 Ways to Build a Growth Mindsets. Retrieved July 24, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/click-here-happiness/201904/15-ways-build-growth-mindset

Dweck, C. S. (2008). Chapter 1-3. In Mindsets: The New Psychology Of Success. New York: Ballantine Books.

Klein, G. (2016, May 01). Mindsets. Retrieved July 24, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/seeing-what-others-dont/201605/mindsetsPuff, R., Ph.D. (2017, September 19). Growth Mindset vs. Fixed Mindset. Retrieved July 24, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/meditation-modern-life/201709/growth-mindset-vs-fixed-mindset