Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata “belajar”? Lelah? Berat? Membosankan? Yap, tiga kata itulah yang selalu dilekatkan dengan aktivitas belajar. Banyak di antara kita yang tidak sabar mengakhiri proses pendidikan karena menganggap kegiatan belajar memang tidak menyenangkan. Tugas dan ujian yang menumpuk, yang selalu menjadi makanan sehari-hari seorang pelajar, dianggap sebagian besar orang sebagai beban yang ingin dihindari jika bisa. Pertanyaannya, apakah suatu saat kita akan berada di tahap berhenti belajar?

Menariknya, jawabannya ialah tidak. Sebagai individu, kamu tidak akan pernah berhenti belajar. Ketika kamu menduduki posisi-posisi penting di sebuah perusahaan, kamu juga harus berulang kali belajar melewati proses evaluasi untuk mempertahankan posisimu— atau meningkatkan jenjang kariermu. Bahkan, ketika kamu memutuskan untuk bekerja di rumah, entah sebagai ibu rumah tangga atau pengusaha rumahan, kamu akan terus belajar untuk mengenali cara didik paling tepat untuk anakmu atau tren yang ada untuk memasarkan usahamu. Belajar, belajar, dan belajar adalah proses kunci kita sebagai manusia agar kita dapat terus bertahan melewati zaman yang berkembang dengan pesat.

“Wah, berat banget ya hidup itu kalau harus selalu belajar,” mungkin di antara kalian bergumam demikian dalam hati. Bagaimana tidak, menjaga fokus menggarap berbagai mata kuliah dan pelajaran saja sudah luar biasa melelahkan. Sungguh-sungguh tak terbayangkan melalui semuanya seumur hidup. Sebenarnya, pendidikan itu ngga hanya ngomongin soal aktivitas di dalam ruang kelas, lho. Penasaran soal konsep pembelajaran sepanjang hayat? Artikel ini akan mengupas tuntas segala pertanyaanmu itu.

Sebenarnya, apa itu belajar?

Kata belajar sendiri sangat umum dan memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Secara umum, belajar adalah proses mendapa

tkan pengetahuan dari berbagai pengalaman yang kita tangkap melalui indera. Pembelajaran sendiri dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, mulai dari pembelajaran persepsi (bagaimana cara membaca dan menginterpretasikan grafik dan gambar) hingga pembelajaran kognitif (bagaimana cara kita menghubungkan fakta yang telah kita terima dengan fakta lain yang baru saja kita dapatkan sehingga mendapatkan suatu kesimpulan baru).

Lalu, mengapa kita harus belajar terus sepanjang hayat?

Sederhananya, karena dunia terus berubah. Tiap-tiap tahun, tren, keilmuan, bahkan teknologi akan terus berubah dan berkembang. Bayangkan, seperti apa gadget-mu 5 tahun yang lalu? Kemudian bandingkan dengan gadget yang kamu pegang sekarang. Tentu, kamu akan melihat banyak perbedaan— mulai dari kualitas gambar, hasil tangkapan kamera, fitur-fitur, dan sebagainya.

Bayangkan juga, di masa pandemi seperti ini, dalam waktu beberapa bulan saja, segala bentuk aktivitas kita telah teralihkan— dari yang mulanya selalu dilakukan secara offline mulai beralih ke online. Untuk melewati perubahan-perubahan hidup, kita harus mampu beradaptasi dan belajar. Perubahan tidak dapat kita hindari, tetapi kejadian buruk sebagai imbas dari perubahan bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan. Dengan belajar, kita dapat mengubah perubahan menjadi peluang-peluang baru.

“Duh, tetapi mengapa aku malas sekali ya untuk belajar?”

Jika di benakmu terlintas hal demikian, bukan kamu saja yang merasakan hal demikian. Penghalang terbesar dalam menjalani proses pembelajaran adalah kehilangan motivasi diri. Sulit untuk memastikan diri kita untuk tetap tertarik dengan suatu hal. Penyebabkan sederhana— karena kita menganggap proses belajar di kelas hanyalah proses dimana kita menjadi sponge, siap menyerap apapun yang dikatakan oleh guru tanpa berusaha mengkritisi dan mencari tahu hal-hal lainnya di luar dari pemaparan guru tersebut. Akibatnya, kita menganggap proses belajar sebagai proses yang pasif dan membosankan— proses yang tidak relevan dalam kehidupan kita. Kita pun ingin secepatnya mengakhiri proses belajar.

Lalu, anggapan proses belajar yang benar yang seperti apa?

A picture containing indoor, sitting, computer, table

Description automatically generated
Photo by Element5 Digital on Unsplash

Proses pembelajaran sepanjang hayat atau lifelong learning dirumuskan oleh Arthur P. Shimamura, Ph.D dalam 5 prinsip dasar yang dapat disingkat menjadi MARGE: Motivate, Attend, Relate, Generate, dan Evaluate. Dengan mempraktikan kelima prinsip dasar ini, kita menjadi semakin mampu untuk menjalani pembelajaran sehari-hari yang efisien sehingga selalu teringat-ingat olehmu. Penasaran apa yang harus dilakukan? Yuk, simak!

1. Motivasi dirimu dan seraplah ilmu

Seperti yang telah dijelaskan dalam poin sebelumnya, memotivasi diri terkadang menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, daripada melihat pembelajaran sebagai suatu proses yang pasif untuk diri kita, kita dapat memandangnya dengan cara perbeda.

Proses pembelajaran sebenarnya terdiri dari proses top-down, proses dimana kita secara aktif menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang telah kita dapatkan sebelumnya untuk memilih informasi-informasi mana yang ingin kita proses lebih lanjut. Oleh karena itu, penting untuk selalu mencari tahu banyak informasi baru. Semakin banyak kita memproses suatu informasi menjadi pengetahuan, semakin banyak pula informasi baru yang akan kamu serap karena kamu telah mendapatkan landasan pengetahuan dalam bidang tersebut sebelumnya. Membaca berita dan buku serta menonton tayangan informatif adalah hal yang dapat kamu lakukan untuk tetap up to date dengan informasi-informasi baru.


2. Hubungkan hal-hal yang berkaitan (Conneting The Dot's)

Kejadian-kejadian yang nantinya akan kita pilih untuk diproses menjadi informasi dan selanjutnya menjadi pengetahuan sangat bergantung kepada pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Tahukah kamu, bahkan ketika kita memilih pakaian yang kita anggap bermotif bagus dan bahannya nyaman digunakan, kita mengandalkan persepsi kita terhadap baju yang “bagus” dan pengalaman kita mengenakan bahan tertentu. Sementara itu, baju-baju yang tidak kamu pilih adalah motif dan bahan yang mungkin belum pernah kamu kenali sebelumnya— semata-mata karena kamu belum memiliki pengalaman melihat dan mengenakannya.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui aplikasi hal-hal yang kita pelajari di dunia nyata agar mudah untuk relate dengan apa yang hendak kita pelajari. Misalnya, kamu ingin belajar bahasa Korea karena suka menonton drama dan idol Korea dan ingin menyaksikannya tanpa subtitle. Dengan demikian, kamu jadi semakin semangat deh untuk mempelajarinya karena kamu paham kegunaan dan aplikasinya dalam dunia nyata.

Selain itu, untuk membangun struktur pemahaman yang baik, sangat penting untuk menguasai fundamentalnya terlebih dahulu. Sebagai contoh, sebelum mempelajari pemangkatan, kita harus mempelajari penjumlahan, kemudian perkalian. Dengan begitu, kamu akan semakin mudah relate pula dengan materi yang sulit tersebut karena sudah paham dasar-dasarnya.

3. Jangan lelah untuk mengulang-ulang kembali yang sedang dipelajari

Setelah mempelajari semuanya, perjuanganmu tidak berhenti sampai disitu. Tentu, kamu harus memastikan kamu mampu mengingat apa yang sedang kamu pelajari. Bagaimana ya caranya? Cara paling efisien melakukannya adalah dengan menciptakan momen dimana kamu dapat mengingat-ingat kembali— seperti dengan menceritakannya kepada orang lain tentang hal yang baru saja kita pelajari. Dengan demikian, secara alami kamu dapat meningkatkan daya ingatmu terhadap hal tersebut lho.

4. Evaluasi proses yang udah kamu lalui

Setelah kamu menjalani proses-proses sebelumnya, penting untuk menilai kemampuanmu kemudian. Dengan melakukan evaluasi, kamu jadi tahu nih, apakah pemahamanmu terhadap suatu topik sudah mendalam atau belum. Proses evaluasi ini atau proses mengetahui apa sih yang kita ketahui, oleh para psikolog disebut sebagai “metacognition”.  Prosesnya dilalui dengan menanyakan apakah hal yang sedang dipelajari sudah benar-benar dipahami. Selanjutnya, kita juga dapat merumuskan rencana-rencana ke depan untuk menajamkan pemahaman terkait hal tersebut, seperti misalnya dengan  mengalokasikan lebih banyak waktu untuk belajar.

Sepanjang hidup kita, kita akan terus menjadi manusia pembelajar. Oleh karena itu, menjalankan prinsip MARGE merupakan proses panjang yang harus kita lalui terus menerus. Evaluasi menjadi proses kunci yang harus terus kita lakukan untuk menjadikan proses lifelong learning dapat terus tercapai.

Kamu dapat belajar dari banyak hal, salah satunya lewat artikel-artikel yang disediakan Satu Persen yang akan membantumu berproses sehari-hari. Salah satu mindset yang penting dimiliki dalam menjalani lifelong learning adalah growth mindset. Mau tahu lebih lanjut? Kamu bisa membaca artikel Satu Persen soal mindset disini dan videonya disini. Semoga artikel ini dapat membantumu menjadi lebih baik, setidaknya Satu Persen setiap hari, menuju hidup seutuhnya.

Referensi:

Shimamura, A. (2018, August 05). Lifelong Learning and Active Brains: M is for Motivate. Retrieved September 12, 2020, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-the-brain-the-beholder/201808/lifelong-learning-and-active-brains-m-is-motivate

Shimamura, A. (2018, August 25). Lifelong Learning and Active Brains: G is for Generate. Retrieved September 12, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-the-brain-the-beholder/201808/lifelong-learning-and-active-brains-g-is-generate

Shimamura, A. (2018, July 28). Lifelong Learning and Active Brains: Let's Get Started. Retrieved September 12, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-the-brain-the-beholder/201807/lifelong-learning-and-active-brains-lets-get-started

Sumber gambar:

https://unsplash.com/photos/OyCl7Y4y0Bk