Tahukah kamu?

Umumnya, sekolah menyediakan kurikulum yang terdiri dari keterampilan teknis atau hard skills. Sayangnya, keterampilan tersebut tidak cukup bagi para siswa untuk menghadapi dunia perkuliahan. Ketika memasuki perkuliahan, mereka akan lebih banyak dituntut untuk memahami diri mereka secara mendalam, mampu untuk berpikir kritis, serta menerapkan bermacam soft skills.

Permasalahan tersebut, terjadi karena kurangnya SDM dan bahan materi terkait, dalam memfasilitasi kegiatan kesehatan mental (konseling dan kegiatan untuk mengembangkan soft skills). Selain itu, belum semua sekolah mampu mengembangkan penilaian program pengembangan diri, sehingga penilaian seringkali hanya dilakukan berdasarkan intuisi saja. Maka dari itu, siswa menjadi kesulitan, dalam mengasah dan mengembangkan soft skills yang dimiliki.

Maka dari itu...

Satu Persen for School, hadir untuk membantu siswa, dalam memberikan pelatihan soft skills, serta tes minat dan bakat. Juga merupakan sebuah upaya dari Satu Persen untuk menjalin hubungan baik, serta merangkul lembaga/institusi sekolah maupun OSIS yang memiliki keselarasan program dan visi dengan Satu Persen.

Segala kegiatan ini, diawasi oleh profesional dari bidang psikologi. Berisi kegiatan yang bervariasi, menarik, juga edukatif bagi para siswa, sehingga mereka dapat dengan mudah mengasah dan mengembangkan soft skills yang dimiliki, serta belajar untuk menerapkannya sehari-hari.

Lalu, apa saja programnya?

1. Tes Minat Bakat

Tes yang digunakan adalah RIASEC, dilakukan secara daring. Satu Persen juga menyediakan jasa mentor, untuk membantu siswa dalam menganalisis hasil tes.

2. Basic Mental Health Training (BMHT)

Secara umum, program ini bertujuan untuk melatih siapapun agar mampu menangani masalah kesehatan. Kurikulum pelatihan, yakni mempelajari kemampuan psikologi dasar yang praktikal.

3. Organization Partnership

Merupakan bentuk kolaborasi antara sekolah dan Satu Persen, untuk menghasilkan suatu kegiatan yang dapat memberi bantuan dalam pengembangan diri dan kesehatan mental di sekolah, misalnya dalam bentuk media partner atau membentuk komunitas mental health.