Author : Nouvend

Masih ingat, gak? Lagu yang sempat populer dulu pas kamu kecil? Mungkin ada yang belum tahu, tapi lagu ini sempat terkenal dan jujur saja, lagu ini masih relatable sampai sekarang. Itu loh, Sahabat Jadi Cinta by Zigaz. Reff lagu itu akan selalu teringat dengan jelas di bayanganku, kalau kamu bagaimana?

Hmm… relatable ‘kan? Rasanya pada suatu titik di kehidupan, kita semua pernah merasakan dilema antara tetap menjadi sahabat atau mencoba menyatakan perasaan kita. Tidak ada yang bisa disalahkan, namanya juga cinta, dia bisa datang di saat-saat yang paling tidak terduga.

Untuk kamu yang sedang merasakan dilema tersebut, pilihan apa yang kira-kira akan membuahkan hasil terbaik untukmu? Tetap menjadi sahabat? Atau mendengarkan kata hati dan nyatakan perasaanmu? Tunggu, memangnya kenapa ‘sih, kita bisa (dan sering) terperangkap dalam situasi ini? Terus gimana kalau kamu di-friendzone-in sama sahabatmu sendiri? Izinkan aku untuk mengajakmu sedikit berjalan-jalan dalam fenomena ini, antara cinta dan persahabatan.


Sahabat atau Cinta, Siapa yang Menentukan?

Sahabat dan cinta, dua hal yang tidak mungkin terlepas dari kehidupan kita. Pernahkah kamu berpikir bagaimana seseorang bisa menjadi teman atau sahabatmu? Kenapa yang lain tidak? Kenapa hanya beberapa orang yang sekarang menjadi sahabatmu?

Untuk mengetahuinya, kamu perlu tahu proses seseorang menilai orang asing di kehidupannya sebelum mengenal mereka lebih lanjut. Menurut Brannan & Mohr (2020), ada beberapa hal penting yang dapat menentukan apakah seseorang dapat berubah dari orang asing menjadi teman. Pertama adalah kedekatan (secara fisik), seperti teman-teman sekolah yang sering kamu temui atau teman kampus yang tidak jarang berpapasan denganmu. Lalu ada keakraban; ketika kamu sudah sering bertemu dengan seseorang, kamu akan merasa akrab dengan mereka dan hal ini membuatmu lebih cenderung untuk berteman dengan mereka. Kemudian ada kesamaan, dan yang terakhir adalah timbal-balik hubungan.

Banyak juga ya? Kamu tidak merasa pernah menilai hal-hal tersebut? Well, itu bukan salahmu, karena sejatinya, waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan apakah seseorang akan menjadi teman, gebetan, musuh, atau apapun itu seringnya terjadi dalam waktu kurang dari satu jam (Campbell, Nelson, Parker, & Johnston, 2018).

Selain hal-hal di atas tadi, faktor-faktor yang dapat menentukan kelancaran sebuah hubungan dapat tercipta adalah kemenarikan (seperti kebaikan, kehangatan seseorang), keterbukaan, keekspresifan dan selera humor (Campbell, Nelson, Parker, & Johnston, 2018). Nah, hal yang menarik adalah hal-hal tersebut juga ada dalam faktor-faktor yang menentukan seseorang ketika mencari gebetan.

“Tentu saja, dong! Mana mungkin ada yang mau pasangan yang tidak ‘klik’ dengan dirinya?”, pikirmu mungkin. Benar sekali, maka dari itu ayo kita bicara tentang hal berikutnya.

“Dia Cuma Teman!”

Hm… apa itu benar? Atau jangan-jangan kamu diam-diam berharap hal yang lain? Ya, kurasa kita semua pernah punya ketidakmungkinan yang sering disemogakan. Aku pun demikian. Yang ingin kubahas di sini adalah apa iya, kamu dan dia bisa hanya menjadi teman? Jangan-jangan cinta datang karena terbiasa? Mungkin saja kamu punya beberapa teman yang menurutmu bisa menjadi argumenmu untuk mengiyakan bahwa men and women can be “just friends”.  Masih ragu? Well, I can’t blame you for that!

Bleske-Rechek melakukan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal berjudul Benefit or Burden? Attraction in Cross-Sex Relationship. Ya, seperti yang sudah bisa kamu simpulkan dari judulnya, penelitian ini berfokus pada pertanyaan kita di atas tadi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki secara umum lebih cenderung untuk merasa bahwa hubungan platonis mereka dengan teman perempuan bisa berujung kepada hubungan yang romantis (sebuah pemikiran yang sesat) dibandingkan dengan teman perempuan mereka yang cenderung melihat hubungan mereka apa adanya —hubungan yang platonis— tanpa ada kecenderungan romantis (Ward, 2012).

Hm, tapi bukan berarti semua laki-laki adalah fakboi ya! Penelitian tersebut menunjukkan kecenderungan, bukan kepastian! Ingatlah selalu untuk mengendalikan diri agar tidak terjatuh dalam harapan palsu yang kamu ciptakan sendiri, hehe.

Prioritasmu: Sahabat atau Cinta?

Sudah, cukup dengan pembicaraan yang tidak pasti. Pernah gak sih, kamu merasa ada teman yang tiba-tiba menghilang setelah punya pacar? Atau mungkin kamu merasa sedikit menjauh dari beberapa orang semenjak pacaran/dekat dengan that special someone?

Tenang, itu hal yang wajar, kok. Seseorang dapat secara realistis berteman dengan sekitar 150 orang sekaligus. Ada teman yang dekat, ada teman yang kamu temui di sekolah, ada teman yang kamu temui di tempat les, dan lain-lain. Ketika ada orang baru yang datang dalam kehidupanmu, hal ini akan membuat perhatianmu dan keterikatanmu secara emosional bagi beberapa orang akan terarah kepada orang baru ini, yang adalah pacar/gebetanmu (Amos, 2010). Perpindahan alokasi perhatian inilah yang membuat orang-orang tertentu mulai terasa menjauh darimu, dan hal ini tidak seburuk itu.

Ketika kamu mulai mendedikasikan hidupmu untuk seseorang yang sedang berada dalam hubungan romantis denganmu, dapat dipastikan akan ada orang-orang dalam lingkup sosialmu yang harus ‘dikorbankan’, karena porsi perhatianmu kemungkinan besar akan sangat terpotong. Sedih, tahu, ditinggalkan oleh orang-orang yang awalnya begitu dekat denganmu. Kurasa kamu juga pernah mengalami hal ini ‘kan? Sahabat yang dulu dekat sama kamu, sekarang menjauh, mungkin juga sudah menjadi stranger. Ayo, tersenyumlah sedikit, karena aku rasa kamu pasti butuh ini untuk mengatasi kesedihanmu ketika ditinggalkan.

Wah, kalau begitu akan sangat nyaman kalau sahabat kita adalah gebetan/pacar kita juga dong? Inilah, kawanku, pemikiran yang ibarat pedang bermata dua.

Bagaimana Jika Sahabatku Menjadi Pasanganku: Skenario Buruk

Kenapa, sih, kita sering jatuh hati pada sahabat sendiri? Yah, namanya juga sahabat sendiri, pasti kamu sudah dekat dan tahu banyak hal tentangnya, tidak heran jika kedekatan itu pelan-pelan mulai berubah menjadi bibit cinta, apalagi kalau kamu merasa menerima kode-kode yang tidak pasti (kamu tidak sendiri, aku juga sudah mengalaminya).

Ketika terjadi penolakan, persahabatan akan retak. Jangan khawatir, ini normal, kok. Wajar saja kamu mungkin merasa kesal, sedih, dan campuran emosi lainnya ketika kamu di-friendzone-in. Ini bukan berarti dia membencimu, hanya saja, sahabatmu hanya bisa menganggap hubungan kalian sebagai persahabatan yang platonis. Nasib persahabatanmu tergantung pada respon kedua belah pihak setelah terjadi penolakan.

Awalnya pasti sedikit canggung dan kamu akan mendapati dirimu sedikit menarik diri dari sahabatmu. Ini wajar, karena kalian berdua butuh waktu sendiri, sebentar. Yang jelas kamu jangan benar-benar menarik diri dari sahabatmu karena hal itu akan berujung pada hubungan yang rusak dan akhirnya kalian akan kembali menjadi orang asing. Ingat, kuncinya adalah memberi jarak sebentar, beri waktu bagi dirimu dan temanmu untuk memproses penolakan tersebut sambil pelan-pelan menyusun serpihan hati yang berserakan. Awalnya memang pahit, namun kamu dan sahabatmu harus bersama-sama berusaha untuk memperbaiki situasi dengan cara kalian masing-masing. Aku tahu friendzone itu tidak enak, jadi aku akan memberikan sedikit solusi bagaimana menghadapi friendzone di sini.

Bagaimana Jika Sahabatku Menjadi Pasanganku: Skenario Baik

Wah, kalau bisa seperti ini, sih, akan sangat bagus! Orang-orang yang menganggap pasangan mereka adalah sahabatnya cenderung lebih bahagia dan hubungan mereka bertahan lebih lama (Lewandowski Jr., 2020). Ini bukan berarti kamu lantas mencoba membuat sahabatmu sekarang menjadi pasanganmu ya, ingat resiko yang bisa terjadi! Tapi kalau kamu memang sudah bertekad bulat, aku bakal ngasih tips agar kamu tidak ditolak gebetanmu! Go for it!

Ketika pasanganmu adalah sahabatmu juga, hubungan akan menjadi jauh lebih menyenangkan. Sahabat dan pasangan memiliki kualitas hubungan yang mirip, membuat kamu yang memiliki pasangan yang juga adalah sahabat akan merasakan kenyamanan tanpa harus khawatir akan menjauh dari sahabatmu sekarang ketika menjalin hubungan romantis. All in all, memiliki pasangan yang juga adalah sahabat itu sangat menguntungkan! Tapi kamu tidak harus memaksakan diri kok, kalau memang sahabatmu ada di luar lingkup hubungan romantismu, tidak masalah.

Well, that’s about that! Untuk kamu yang sedang sedih karena habis ditolak sahabat sendiri. yang kuat ya! Waktu akan membuatmu lebih kuat kok!

Ohiya, buat kamu yang ingin tau lebih banyak mengenai Satu Persen kamu juga bisa mengikuti kami di instagram @satupersenofficial karena biasanya akan ada berbagai promo menarik seputar layanan dari Satu Persen. Akhir kata, semoga artikel ini dapat membuatmu semakin berkembang disetiap hari ya!. Seenganta Satu Persen setiap hari.

References

Amos, J. (2010, September 15). Falling in love costs you friends. Retrieved from BBC News: https://www.bbc.com/news/science-environment-11321282

Brannan, D. & Mohr, C. D. (2020). Love, friendship, and social support. In R. Biswas-Diener & E. Diener (Eds), Noba textbook series: Psychology. Champaign, IL: DEF publishers. Retrieved from http://noba.to/s54tmp7k

Campbell, K., Nelson, J., Parker, M. L., & Johnston, S. (2018). Interpersonal Chemistry in Friendships and Romantic Relationships. Interpesona Vol.12 (1), 34-50.

Lewandowski Jr., G. W. (2020, May 18). Should My Partner Be My Best Friend? Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-psychology-relationships/202005/should-my-partner-be-my-best-friend

Raypole, C. (2019, March 20). How to Deal with Unrequited Love for a Friend. Retrieved from GoodTherapy: https://www.goodtherapy.org/blog/how-to-deal-with-unrequited-love-for-friend-320197

Ward, A. F. (2012, October 23). Men and Women Can't Be "Just Friends". Retrieved from Scientific American: https://www.scientificamerican.com/article/men-and-women-cant-be-just-friends/