Halo, Perseners! Gimana kabar kalian hari ini? Ngga terasa, ya kalau tahun 2020 udah mau abis, nih. Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat ya, baik fisik, mental, maupun emosional.

Oh iya, kenalin aku Keysha dan ini artikel pertama aku di Blog Satu Persen. So, semoga apa yang aku tulis bisa bermanfaat ya buat teman-teman semua. Nah, sebelum masuk ke topik pembahasan, aku punya sebuah kutipan untuk direnungkan sama teman-teman semua.

“Money is the root of all evil.”

Sebagian besar dari teman-teman pasti udah sangat sering melihat kalimat di atas. Kenapa sih kok uang itu dianggap sebagai akar dari kejahatan?

Pada kenyataanya, uang memang dapat menyebabkan seseorang menjadi “rakus”. Uang memang bukan segalanya, tapi ngga bisa dipungkiri kalau hidup itu butuh uang. Akibatnya, beberapa orang nekat menghalalkan segala cara demi mendapatkan banyak uang dan menjadi kaya.

Berbicara soal uang, ada ngga sih di antara kamu yang mikir gini “kayaknya aku sering nabung, tapi kok ngga kaya-kaya ya?” atau justru sebaliknya “aku belum punya penghasilan sendiri dan udah ngga dikasih orang tua, gimana ya caranya supaya bisa nabung biar aku jadi kaya?”

Banyak banget orang yang ingin cepat kaya. Merasa kalau di umur 20-an ini semua hal harus udah dapat dicapai termasuk dalam hal finansial. Tapi, yang sering kali dilupakan sama banyak orang yaitu bahwa menjadi kaya atau banyak uang bukan merupakan hasil akhir yang dicapai secara cepat. Butuh usaha dan waktu untuk mencapai hal itu melalui yang namanya proses.

Kalau kamu sekarang melihat banyak banget public figure yang di usia muda udah sejahtera dan mandiri secara finansial, pernah ngga kamu mikir mereka itu udah menjalani proses berapa lama dan dari umur berapa?

Please put this in mind ya teman-teman, tidak ada satu pun proses yang sifatnya instan. Dari proses hingga menjadi outcome yang kamu inginkan itu butuh waktu. Bisa seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan bertahun-tahun!

Menurut KBBI, proses didefinisikan sebagai runtutan perubahan atau peristiwa dalam perkembangan sesuatu. Proses dapat terbentuk apabila kamu menerapkan kebiasaan atau dikenal dengan istilah habit.

Nah, karena di artikel ini kita bakal bahas soal keuangan, perlu diketahui dulu kalau kebiasaan atau habit dimulai dari suatu pemahaman dasar–dalam hal ini kebiasaan mengelola keuangan dimulai dengan memahami tentang “literasi keuangan”.

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menjelaskan bahwa literasi keuangan merupakan kombinasi kesadaran, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk membuat keputusan keuangan yang baik dan pada akhirnya mencapai kesejahteraan finansial individu.

Sebagian besar dari teman-teman pasti ada yang mikir “emang sepenting itu ya paham soal literasi keuangan?” atau “emang bahayanya apa kalau kurang pemahaman soal literasi keuangan?”.

Di sini, Satu Persen memang punya concern yang tinggi mengenai literasi keuangan karena hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang. Sayangnya, pemahaman mengenai literasi keuangan ngga diajarkan di sekolah-sekolah konvensional di Indonesia.

Memiliki pemahaman literasi keuangan yang baik sangat penting supaya bisa menghindarkan kamu dari bad money habits–misalnya pembelian impulsif, tidak melakukan penganggaran (budgeting), penggunaan kartu kredit secara berlebihan, dan lain sebagainya. Bad money habits ini dapat menyebabkan yang namanya financial stress, yaitu suatu kondisi dimana terjadi kesulitan untuk memenuhi komitmen keuangan dasar karena kekurangan uang.

Apa sih Bahayanya Mengalami Financial Stress?

Hasil penelitian menyebutkan bahwa financial stress berdampak negatif terhadap kesehatan dan psikologis seseorang seperti anxiety dan depresi. Australian Department of Health (2017) menjelaskan bahwa literasi keuangan yang tinggi berhubungan erat dengan tingkat financial stress yang rendah.

Lalu, kalau kamu merasa udah “terlanjur” terjebak dalam bad money habits gimana? Atau gimana sih caranya untuk mulai menerapkan healthy money habits?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada tiga hal dasar yang wajib kamu perhatikan untuk mencapai financial wellness.

Pahami Sumber Keuangan (Source)

Langkah pertama, kamu harus paham sumber masuknya uang kamu itu darimana aja. Apakah kamu tipe orang yang making money, earning money, atau keduanya?

Gampangnya, making money itu berarti kamu punya prinsip kalau uang itu bisa dibuat atau dihasilkan sendiri. Misalnya, kamu hobi masak atau bikin kue dan kamu melihat kemampuan kamu sebagai suatu peluang yang bisa kamu optimalkan untuk jualan di e-commerce atau media sosial lainnya.

Contoh lain, kamu adalah orang yang punya kemampuan mendesain logo. Kemudian, kamu memutuskan untuk ikut berbagai macam lomba dan dari lomba-lomba yang kamu ikuti itu, kalau menang kamu dapat menghasilkan uang.

Baca juga : IKIGAI - Passion, Mission,Vocation, dan Profession

Poin kedua dari contoh di atas yaitu, making money sangat memungkinkan kamu menggunakan waktu dan energi kamu sendiri untuk menghasilkan revenue tanpa bergantung sama orang lain dimana kamu bisa mengendalikan potensi kemampuan kamu sendiri. Artinya, kalau kamu masih sekolah atau belum bekerja kamu tetap bisa kok menghasilkan uang sendiri–aktivitas ini disebut juga sebagai passive income.

Sedangkan, earning money berarti kamu menginvestasikan waktu dan energi kamu untuk bekerja terhadap orang lain. Sebagai gantinya, kamu akan mendapatkan bayaran atas waktu dan energi yang kamu berikan.

Dari dua hal itu emang mana yang lebih bagus? Kalau berbicara soal bagus itu sebenarnya relatif. Kamu mau menerapkan making money aja, mau menerapkan earning money aja, atau mau menerapkan keduanya sah-sah aja.

Kalau kamu udah bekerja yang artinya kamu earning money, tapi kamu merasa kalau fixed salary atau gaji tetap mu itu belum cukup untuk mengakomodasi kebutuhan pokok, boleh banget kalau kamu juga mulai mencari revenue stream yang lain. Jadi, sumber keuangan mu itu ngga hanya dari satu sumber melainkan beberapa.

Sama halnya ketika kamu self-employed yang artinya kamu making money, tapi dari usaha yang kamu rintis sendiri itu udah bisa mengakomodasi kebutuhan hidup lebih dari yang kamu harapkan. Jadi, ngga hanya kebutuhan pokok yang terpenuhi, tapi juga kebutuhan sampingan. Ngga masalah kalau kamu memilih untuk tidak bekerja kantoran.

Membuat Penganggaran Pribadi (Spent)

Selanjutnya, setelah paham darimana aja sumber keuangan kamu, langkah berikut yang bisa kamu lakukan adalah membuat penganggaran atau budget. Budget ini merupakan hal yang penting buat kamu lakukan karena dengan membuat penganggaran kamu bisa memonitor seberapa besar uang yang bersedia kamu keluarkan.

Ada dua hal yang perlu kamu perhatikan dalam membuat budget yaitu bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Dalam membuat budget, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan salah satunya menggunakan metode 50/30/20.

Metode ini membagi pencatatan anggaran menjadi tiga kategori, 50 persen untuk kebutuhan pokok (needs), 30 persen untuk kesenangan dan hiburan lain (wants), dan 20 persen untuk tabungan dan investasi. Selain itu, metode budgeting lain yang dapat kamu gunakan seperti metode 80/20, metode Kakeibo, metode Li-Ka Shing, dan lain sebagainya.

Pastikan metode yang kamu gunakan untuk membuat budget itu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Budgeting ini merupakan tahapan yang penting. Jangan sampai malah merepotkan diri sendiri sehingga nanti pada akhirnya kamu bingung sendiri sama apa yang kamu tulis dan berujung stres. Kalau kamu merasa udah “masuk” ke dalam tanda-tanda stres, kamu bisa mengecek seberapa besar tingkat keparahan stres yang kamu miliki di website Satu Persen.

Tes Gratis: Hitung Tingkat Stres Kalian Sekarang!

Tujuan dari membuat budget adalah untuk menyelesaikan masalah bukan menambah masalah. Usahakan untuk realistis. Jadi, kamu bisa banget mulai dari metode budgeting yang menurut kamu paling sederhana dan mudah untuk diimplementasikan.

Tentukan Tujuan Keuangan (Saving & Investing)

Setelah kamu memperhitungkan kedua hal di atas, selanjutnya kamu perlu untuk mempertimbangkan tujuan keuangan yang mencakup jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Tujuan jangka pendek merupakan tujuan yang durasi waktunya dapat direalisasikan di bawah satu tahun, eperti menabung untuk liburan dengan keluarga, hangout bareng teman-teman, membeli gadget yang diinginkan, dan masih banyak lagi. Masing-masing orang tentunya akan memiliki tujuan jangka pendek yang berbeda-beda.

Tujuan jangka menengah biasanya memerlukan waktu sekitar tiga sampai lima tahun untuk dapat terealisasi. Contohnya, kalau kamu saat ini adalah fresh-graduate yang sudah bekerja, tujuan jangka menengah kamu dapat berupa membeli apartemen atau mobil pribadi. Selain itu, dalam tujuan jangka menengah ini juga memungkinkan kamu untuk mengembangkan lebih dari satu revenue stream, misalnya dengan cara merintis small business di media sosial.

Sedangkan, tujuan jangka panjang biasanya dicapai dalam jangka waktu di atas lima tahun. Dalam merencanakan tujuan ini, sangat penting buat kamu untuk membangun yang namanya komitmen dan kedisiplinan. Kenapa begitu? Karena memang untuk merealisasikan tujuan ini itu sulit. Komitmen berarti kamu membuat perjanjian dengan diri kamu sendiri bahwa kamu akan stick with your plan, di mana hal ini harus disertai dengan kedisiplinan dalam mengelola keuangan.

Tujuan jangka panjang ini biasanya berkaitan dengan investasi yang nantinya hasil dari investasi ini akan digunakan untuk hal-hal seperti dana pensiun, tabungan sekolah anak kalau kamu nanti sudah berkeluarga, membeli rumah, dll.

Perlu diingat bahwa ketiga hal di atas tidak harus dicapai dalam satu waktu sekaligus melainkan bertahap (step-by-step process). Tiga komponen di atas juga bukan merupakan cara yang absolut melainkan reasonable, artinya aku di sini hanya berusaha untuk simplified the process supaya lebih mudah untuk dipahami oleh teman-teman.

Nah, kembali lagi ke pertanyaan di atas, gimana sih caranya keluar dari bad money habits? Untuk menghilangkan kebiasaan tersebut dapat dilakukan dengan cara mengimplementasikan kebiasaan atau habit baru. Tiga komponen untuk mencapai financial wellness tersebut direalisasikan melalui habit. Habit bukan magic yang secara tiba-tiba akan muncul di otak kamu melainkan dibentuk.

Sebelumnya, Satu Persen juga udah pernah membahas di channel Youtube gimana caranya untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Kalau kamu ingin tahu secara lebih lengkap, kamu bisa nonton video tersebut di sini.

Bagaimana Caranya Habit Bisa Terbentuk?

Menurut Charles Duhigg dalam bukunya yang berjudul The Power Of Habit, habit bukan merupakan suatu takdir di mana hal tersebut bisa diabaikan, diubah, atau diganti. Pada awalnya, menerapkan suatu habit baru memang butuh effort lebih. Mungkin kamu akan merasa sedikit “memaksa” diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang ngga biasanya kamu lakukan. Charles Duhigg juga menjelaskan bahwa pembentukan habit itu melalui tiga proses yang disebut sebagai Habit Loop.

1. Cue

Isyarat (cue) merupakan pemicu yang memberi tahu otak kamu untuk beralih ke mode otomatis dan kebiasaan mana yang harus digunakan. Pemicu itu bisa beragam. Bisa karena kamu lihat teman-teman kamu yang udah mandiri secara finansial terus kamu merasa insecure dan mikir “aku kapan ya bisa kayak gitu?” tapi kamu juga sadar kalo kamu itu impulsive buyer, misalnya. Dan karena kamu impulsive buyer kamu jadi sulit untuk menabung.

Kamu sadar kalau kebiasaan tersebut merupakan bad money habits dan kamu ingin merubah kebiasaan itu.

Contoh lain, kamu sering banget overthinking dikarenakan belum dapat pekerjaan. Kamu takut dengan belum adanya pekerjaan akan membuat kamu sulit untuk mandiri secara finansial.

Rasa overthinking tersebut adalah faktor pemicu (trigger) buat kamu. Akibatnya, kamu memutuskan untuk melakukan konsultasi bersama mentor karena kamu merasa butuh perspektif dari orang yang lebih profesional dan berpengalaman dalam mengatasi overthinking tersebut.

Mentoring

Setelah melakukan hal tersebut, kamu jadi dapat berpikir lebih jernih untuk memecahkan masalah. Sebagai solusinya, kamu mendapatkan ide untuk membuat usaha kamu sendiri instead of bergantung untuk mencari pekerjaan. Faktor-faktor pemicu itu lah yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu aksi atau dalam proses pembentukan habit disebut sebagai routine.

2. Routine

Rutinitas (routine) merupakan aksi untuk merealisasikan cue menjadi reward. Kemampuan untuk melakukan suatu aktivitas ini dikendalikan oleh bagian otak manusia yang namanya basal ganglia.

Misalnya, kamu adalah orang yang tidak terstruktur. Kamu paling ngga telaten melakukan pencatatan sistematis yang berhubungan dengan angka dan kamu juga tidak teliti.

Di sisi lain, kamu ingin keluar dari bad money habits dan mulai menerapkan healthy money habits. Mau ngga mau kamu harus memaksa diri kamu untuk melakukan hal yang paling ngga disukai yaitu membuat budget yang dicatat secara sistematis dan terstruktur. Hal ini pastinya akan berat banget dilakukan pas awal-awal.

Tapi, seiring berjalannya waktu kebiasaan akan membentuk pola dan berjalan secara otomatis. Hal ini dikarenakan kebiasaan baru yang muncul akan membuat otak kamu berhenti berpartisipasi penuh dalam pengambilan keputusan. Jadi, lama kelamaan kamu akan terbiasa dengan sendirinya untuk melakukan healthy money habits itu.

Kebiasaan itu ngga akan pernah hilang karena hal tersebut udah tertanam di dalam struktur otak manusia. Tapi, permasalahannya adalah otak manusia ngga bisa membedakan mana yang kebiasaan buruk dan baik.

Katakan kamu udah berhasil menerapkan healthy money habits, kamu selalu kerja keras selama ini dan bank account kamu udah gemuk. Kemudian, karena kamu merasa perlu nge-treat diri sendiri dan mikir “aku gamau strict dalam menabung karena ya buat apa aku menghasilkan uang kalo ngga buat dinikmati?”

Faktor pemicu itu bisa aja membuat kamu balik lagi ke kebiasaan buruk yang lama. Maka dari itu, sekali kamu udah berhasil menerapkan kebiasaan baik, kamu perlu berlatih disiplin supaya kebiasaan lama yang buruk ngga gampang nge-replaced kebiasaan baru kamu.

Salah satu cara untuk melatih disiplin adalah dengan tracking aktivitas kamu. Tracking aktivitas ini dapat dilakukan dengan menulis personalized worksheet. Kalau kamu masih bingung gimana cara membuat personalized worksheet, Satu Persen sebagai solusi bisa membantu kamu dalam hal tersebut dengan cara mendaftar layanan konsultasi bersama mentor.

Banyak banget manfaat yang akan kamu dapat, misalnya kamu bisa mengunduh catatan dari mentormu di akhir sesi serta melakukan sesi lanjutan dimana kamu dapat menceritakan perkembangan dan hambatan kamu setelah sesi pertama.

3. Reward

Reward adalah sesuatu yang akan kamu dapatkan ketika kamu berhasil melakukan suatu aktivitas tertentu. Ketika kamu berniat untuk menerapkan healthy money habits, kamu pasti mengharapkan suatu outcome tertentu, misalnya kamu ingin menjadi tidak impulsif, ingin bank account kamu gemuk, atau kamu ingin kaya.

Reward menjadi hal yang paling penting bersamaan dengan cue di dalam habit loop. Kedua hal ini yang nantinya akan menentukan apakah seseorang tetap mempertahankan kebiasaan yang dimilikinya dalam jangka panjang. Cue tidak akan memengaruhi aksi kamu (routine) apabila kamu merasa tidak akan mendapatkan reward apa pun ketika melakukan suatu aksi tertentu.

Misal, teman kamu menawarkan dessert jualannya yang udah terbukti enak banget menurut banyak orang. Tapi, karena kamu vegetarian kamu memutuskan untuk tidak membeli makanan itu karena menurutmu membeli makanan tersebut tidak akan memberikan reward apa pun buat kamu. Dalam hal ini, faktor pemicu (cue) yang terjadi tidak sejalan dengan reward yang akan dicapai. Agar dapat terbentuk routine, cue dan reward harus sejalan. Gampangnya, ngga mungkin kan kamu melakukan sesuatu kalau diarasa hal itu ngga menimbulkan manfaat apa pun buat kamu.

Hal yang sama berlaku saat kamu ingin merubah bad money habits menjadi healthy money habits. Kamu ingin merubah kebiasaan buruk itu karena kamu percaya dengan menerapkan kebiasaan yang lebih baik akan berdampak positif buat kamu, baik secara finansial, kesehatan, maupun psikologis.

Healthy money habits yang kamu terapkan dapat menimbulkan banyak sekali reward buat kamu. Tidak hanya memperbaiki kondisi finansial, healthy money habits ini juga dapat mengurangi rasa insecure, overthinking, anxiety, dan bahkan depresi.

Penting banget buat diingat bahwa kebiasaan itu selalu bisa diubah atau diganti. Selama kamu punya yang namanya growth mindset kamu pasti akan selalu bisa untuk merubah kebiasaan buruk yang kamu miliki.

Growth mindset ini akan membantu kamu untuk disiplin. Karena memang semua orang bisa menjadi kaya secara secara finansial, tapi untuk mencapai hal tersebut diperlukan kedisiplinan dan harus melalui proses yang bertahap dan tidak instan.

Kalau kamu bingung soal growth mindset, kamu bisa simak penjelasannya lebih lengkapnya di channel Youtube Satu Persen ya.

For a friendly reminder, semua orang berhak mendapat kesempatan yang sama untuk #HidupSeutuhnya. Kalau kamu merasa butuh ruang untuk bercerita, kamu boleh banget lho membagikan ceritamu dengan teman-teman di Satu Persen. Dimulai dari langkah kecil, semua orang pasti bisa berkembang menjadi lebih baik setidaknya Satu Persen setiap harinya.

Sekian dari aku, stay healthy, stay safe & stay sane!

Referensi:

Australian Department of Health. 2017. Retrieved from URL https://headtohealth.gov.au/meaningful-life/feeling-safe-stable-and-secure/finances.

Bungalow. undefined. “5 Key Components of Financial Literacy.” Bungalow. undefined. https://bungalow.com/articles/the-five-key-components-of-financial-literacy.

Duhigg, Charles. 2012. The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business. Random House

Johnston, Joey. t.t. “How To Set Financial Goals: 6 Simple Steps.” InCharge Debt Solutions (blog). https://www.incharge.org/financial-literacy/budgeting-saving/how-to-set-financial-goals/.

Steen, Adam, dan David MacKenzie. 2013. “Financial Stress, Financial Literacy, Counselling and the Risk of Homelessness.” Australasian Accounting, Business and Finance Journal 7 (3): 31–48. https://doi.org/10.14453/aabfj.v7i3.3.

“How to Earn Money vs How to Make Money.” 2014. Mint. https://www.mint.com/vip-content/yes-earning-money-and-making-money-are-different.