Tips-Buat-Kamu-yang-Kurang-Beruntung

Hello there, Perseners! Sedang merasa tidak beruntung? Oh, what are the odds that you’re reading this article about luck? JK, I know it’s the headline.

Berbicara soal keberuntungan, rasanya pasti kamu pernah mengalami hari-hari yang berjalan begitu baik lalu kamu nyeletuk “Besok gak usah keluar-keluar, ah, luck-ku udah abis”. Atau mungkin kamu sedang berada dalam series of unfortunate events yang membuatmu merasa menjadi orang paling tidak beruntung sedunia. Mungkin itu soal mendapatkan teammate yang mainnya jelek dalam game, kehabisan barang-barang yang kamu beli, atau gagal mendapatkan giveaway.

Really, though, apakah kamu beruntung atau tidak beruntung? Lagian, memangnya keberuntungan itu beneran ada? Kalau ada, bisa dong harusnya kita eksploitasi, I mean, dimanfaatkan demi kebaikan hidup? Hahaha, daripada bingung, mari kita bahas lebih dalam soal keberuntungan ini. Consider yourself lucky that you found this article, hehe.

Baca Juga Penyesalan Tidak Selamanya Buruk: Cara Memaafkan Diri Sendiri

Keberuntungan itu hanyalah (Soal Perspektif)

Wow, benarkah? Oke, mari kita coba perhatikan. Tsutomu Yamaguchi adalah seorang  pekerja yang sempat ditugaskan ke Hiroshima pada tahun 1945. Ketika dia sampai, bom atom dijatuhkan. Dia selamat dari ledakan tersebut, hanya untuk ditugaskan ke Nagasaki setelah kejadian tersebut  tepat ketika bom dijatuhkan lagi, dan dia selamat lagi.

Jadi, apakah Yamaguchi itu beruntung? Atau gak? Steven Hales dan Jennifer Johnson dalam paper mereka yang termasuk dalam jurnal Philosophical Psychology, berhipotesis bahwa orang yang cenderung optimis akan melihat kejadian tadi sebagai keberuntungan, alih-alih ketidakberuntungan seperti yang dianggap orang-orang yang cenderung pesimis.

Mereka melaksanakan penelitian yang mencari tahu hubungan optimisme-pesimisme seseorang terhadap persepsi mereka akan keberuntungan, dan orang-orang yang memiliki sifat optimis cenderung menilai kejadian ambigu (seperti yang tadi) sebagai keberuntungan.

Steven dan Jennifer juga melakukan penelitian lain di mana mereka menciptakan skenario yang sama, hanya saja dibungkus secara berbeda. Skenario pertama mengatakan bahwa Tara Cooper memenangkan 5 dari 6 lotre yang ia beli, sementara skenario kedua mengatakan bahwa Tara Cooper itu mengalami 1 kegagalan dari 6 lotre yang dia beli. Hasilnya, hampir semua orang-orang yang mendapatkan skenario pertama mengatakan bahwa Tara Cooper itu beruntung, sedangkan orang-orang yang mendapatkan skenario kedua mengatakan bahwa Tara Cooper itu tidak beruntung.

Coba Juga Tes Faktor Kepercayaan Diri: Kenali Kelebihanmu!

Kalo Optimis Tapi Ngga Beruntung, Gimana?

Eh… kalau kamu merasa sudah cukup optimis dan tetap merasa terikat dalam ketidakberuntungan, mungkin beberapa hal ini dapat membantumu. Richard Wiseman, seorang profesor di bidang psikologi di University of Hertfordshire menciptakan sebuah “Sekolah Keberuntungan”, dan berikut beberapa tips darinya:

Menciptakan dan Menyadari Peluang Kesempatan.

Masalah utama dalam orang-orang yang sering menganggap diri mereka itu tidak beruntung itu adalah ketakutan akan mengambil risiko dan kurang perhatian. Jangan menunggu hal-hal untuk mendatangimu, kamu yang harus mendatangi mereka. Take as many chances as possible, be aware of your surroundings!

Orang dengan tingkat keresahan (anxiety) yang tinggi cenderung memiliki level kemampuan untuk menyadari hal yang gak disangka lebih rendah dari orang yang memiliki positive outlook dalam hidupnya. Maka dari itu kamu juga harus tahu bagaimana cara mencegah kecemasan yang berlebihan.

Trust your gut and believe in good luck. Selain bahwa kamu harus setia untuk terus mencari kesempatan, kamu juga harus menjaga mindset bahwa keberuntungan itu juga masih sesuatu yang bisa kamu dapatkan.

Bangunlah sikap tahan banting dalam mengubah ‘ketidakberuntungan’ menjadi ‘keberuntungan’. Richard Wiseman melakukan sebuah percobaan di mana dia menyediakan skenario bagi orang-orang yang menganggap diri mereka beruntung dan tidak. Skenario tersebut adalah bayangkan kamu sedang berada di bank lalu tiba-tiba perampok datang dan kamu tertembak di lengan.

Menurutmu, itu sebuah kejadian yang beruntung atau gak?

Jika jawabanmu adalah sial karena ‘ngapain sih aku ada di bank pas perampokan?’, maka kamu mungkin termasuk orang yang menganggap dirimu tidak beruntung. Orang-orang yang menganggap diri mereka beruntung akan lebih banyak mengatakan bahwa ‘hal yang lebih buruk bisa saja terjadi’ atau yang sering kamu dengar, ‘untung cuma segini’.

Kamu sebaiknya membangun kemampuan untuk selalu bangkit lagi dari segala kejadian yang menimpamu; mengubahnya menjadi kejadian yang baik alih-alih berfokus pada keburukan kejadian tersebut. Kamu bisa memulainya dengan mengubah mindset-mu.

“Sekolah Keberuntungan” yang diadakan oleh Richard Wiseman ini sudah terbukti memberikan dampak yang baik bagi orang-orang yang menganggap diri mereka tidak beruntung maupun beruntung. Sekitar 80% orang merasa lebih bahagia setelah menerapkan attitude yang diajarkan.

Lakukan hal yang berbeda dari rutinitasmu sesekali, ambillah kesempatan sebanyak mungkin, keep a positive outlook dalam menjalani hidup, dan bagaimana menghadapi ketidakberuntungan dengan bersyukur!

Keberuntungan Itu…

Ada satu hal lagi yang patut kamu tahu tentang tips soal keberuntungan. Menurut seorang filsuf bernama Seneca, keberuntungan adalah ketika kesiapan bertemu kesempatan. Lah loh lah loh gimana tuh? Daripada ribet, mending kamu langsung nonton aja video di bawah ini!

Lantas Bagaimana dengan Serendipity?

Ada kok yang namanya serendipity, atau singkatnya kebetulan yang menguntungkan. Alias hoki banget. Contohnya aku pernah suatu waktu lagi berusaha lari ke minimarket terdekat untuk membayar tiket nonton turnamen yang harus kubayar dalam waktu 10 menit setelah memesan. Setelah beberapa saat refresh page (yang sering beli tiket konser pasti tahu rasanya), aku berhasil dapat satu tiket, namun m-banking-ku tiba-tiba rusak. Jadinya aku harus berlari, dan kebetulan ada orang yang gak kukenal menawariku tumpangan naik motor menuju minimarket tersebut.

Kok bisa pas banget? Coba aku menunda sedikit saja, coba kala aku gak lari, atau kalau aku memutuskan untuk menunggu m-banking kembali berfungsi, bisa-bisa aku gak jadi menonton turnamen yang sangat ingin aku tonton.

Sometimes, it just happens. Maka dari itu, karena kita gak akan pernah tahu kapan keberuntungan itu akan datang, ada baiknya untuk mengubah gaya hidupmu menjadi lebih terbuka dan kepo akan sekelilingmu. Jangan berfokus pada hal-hal yang kamu miliki atau gak miliki. Berfokuslah pada bagaimana kamu bisa menemukan, mencoba, atau menciptakan hal-hal baru.

Bonus: Gambler’s Fallacy

Gambler’s fallacy adalah sebuah kesalahan berpikir di mana seseorang berpikir  bahwa sebuah kejadian akan lebih cenderung untuk terjadi/gak terjadi berdasarkan urutan kejadian sebelumnya. Contohnya, ketika kamu berhasil mengocok dadu tiga kali dan semuanya menghasilkan angka 6, kamu akan berpikir bahwa percobaan berikutnya gak akan mengeluarkan angka 6 karena “sudah tiga kali keluar angka 6”.

Cara berpikir seperti ini dapat mematikan kesempatan sekaligus membangkitkan semangat bagimu yang merasa tidak beruntung. Namun kamu harus selalu ingat bahwa ini adalah kesalahan berpikir, probabilitas sesuatu (yang berkaitan dengan keberuntungan) akan terjadi itu akan tetap sama, gak peduli berapa kali itu sudah terjadi. So, keep trying and keep opening doors!

Kalau Masih Tidak Beruntung, Bagaimana?

Hmm, kalau Perseners masih merasa tidak beruntung...hm, oke! Coba dulu lakukan tips-tips yang ada tadi! Atau, mungkin Perseners bisa banget ceritain semua keluhan yang dirasakan bareng mentor-mentor profesional di Satu Persen.

Di layanan mentoring Satu Persen, Perseners bakalan dapet solusi dari masalah yang dialami dengan konsultasi one-by-one bareng mentor Satu Persen. Bukan cuma itu, Perseners  juga bisa ikut beberapa psikotes supaya bisa lebih kenal sama diri sendiri dan akan mendapatkan worksheet yang bisa membantu kalian untuk menyelesaikan masalah yang dialami.

Buat Perseners yang sayang sama diri sendiri dan pengen berkembang Satu Persen setiap harinya, bisa banget untuk pantengin informasi menarik tentang konseling, kelas online, dan webinar dari Satu Persen di Instagram dengan follow @satupersenofficial.

Selain itu, kamu juga bisa menjelajahi artikel menarik lainnya dengan langsung kunjungi blog Satu Persen. Jangan lupa juga buat subscribe channel Youtube Satu Persen untuk tonton video menarik tentang kesehatan mental dan self development, Oke!

Sekian dari aku itu aja, aku harap perseners selalu tetap semangat dan berkembang setiap hari, seengganya Satu Persen setiap harinya! Thank You!

Konsultasikan-Masalah-mu-Dengan-Mentor-dan-Psikolog-Satu-Persen

References

CBC Radio. (2018, October 4). Is luck real? A probability expert untangles the difference between fate and chance. Retrieved from CBC: https://www.cbc.ca/radio/thecurrent/the-current-for-october-9-2018-1.4854745/is-luck-real-a-probability-expert-untangles-the-difference-between-fate-and-chance-1.4850859

Chu, M. (2017, September 12). This Researcher Reveals How Lucky People Differ From Unlucky People. Retrieved from Inc.: https://www.inc.com/melissa-chu/want-to-become-luckier-heres-what-you-need-to-do-a.html

Hales, S. (2018, August 14). The Unreality of Luck. Retrieved from aeon newsletter: https://aeon.co/essays/why-luck-might-be-subjective-and-not-part-of-the-world

Kenton, W. (2019, September 12). Gambler's Fallacy. Retrieved from Investopedia: https://www.investopedia.com/terms/g/gamblersfallacy.asp

Wiseman, R. (2003, May). The Luck Factor. Skeptical Inquirer, Volume 27 No.3.