Seorang lelaki duduk sembari menatap langit dengan tangan memegang secangkir cokelat panas yang sudah setengah kosong. Ia sudah memperhatikan gerak-gerik perempuan tersebut sejak sebulan lalu. Ia merasa wajah perempuan tersebut sangat familiar. Sayangnya, ia terlalu pelupa untuk mengingat kejadian lampau.

Dengan langkah pelan sembari membawa cangkir kosong — entah untuk apa — ia menggeret kursi di depan perempuan itu, lalu duduk. Saat mata cokelat perempuan tadi menangkap mata lelakinya ia tersadar, perempuan di depannya adalah Aileen, anak perempuan yang belasan tahun lalu tinggal berseberangan dengan rumahnya—sahabat kecilnya yang tiba-tiba hilang kontak darinya.

Satria membeku melihat keadaan Aileen. Ia selalu menghindari mata Satria dan sekarang bibirnya ikut bergetar. Ia tak henti menggigit jarinya dan pandangannya semakin tak fokus. Satria merasa kondisi Ai benar-benar tidak beres.

Ia kembali menggenggam tangan Ai sembari berkata, "Kalau lo nggak bilang, sampai mati pun gue nggak bakal tau lo kenapa, Ai."

Pikiran Ai semakin kalut. Ia seolah mati rasa, keringat dingin di keningnya memperlihatkan dengan jelas betapa takut dirinya. Telapak tangannya basah dan bergetar hebat. Detak jantungnya pun mulai tak stabil. Apakah ia bisa mempercayai lelaki di depannya ini?

"Gue cuma mau bantu lo, Ai. Nggak ada niat jelek satu pun."

Ai menatapnya dengan mata kosong dan tanpa sadar menepis tangan Satria yang berniat menyentuhnya. Seketika perasaan takut perlahan menguar, membuatnya sesekali meremas blus hitam bermotif bunga yang ia kenakan. Akhirnya, ia pun mengiyakan ajakan Satria. Satria pun menuntun Ai ke tempat mobilnya terparkir. Ai ragu-ragu menundukkan kepalanya lalu perlahan masuk dan duduk di kursi.

"So? What's wrong with you? You can tell me, everything," ucapnya langsung setelah pantatnya mendarat dengan halus di kursi mobil. Jemari Aileen terlihat saling menggaruk, menunjukkan bahwa ia sangat gelisah dan tak nyaman. Berulang kali ia berusaha menguatkan dirinya untuk menatap Satria. Namun, upayanya tak kunjung berhasil. Ia masih dikalahkan oleh rasa takut. Belum lagi hinaan yang sudah sering ia terima. Rasanya sulit sekali membuka diri, tapi ia tahu, Satria berbeda. Ia tidak memaksa seperi orang lain.

"Sat," panggilnya pelan tanpa menghentikan gerakan memilin pita blusnya dan sesekali menggarukkan ibu jarinya dengan telunjuk, cemas. Satria pun menoleh dengan senyum simpulnya.

"Gue nggak tahu harus mulai dari mana, Sat, tapi satu hal yang gue tahu, gue udah nggak kuat nahan ini lagi..." ucapnya putus asa. Aileen merasakan dadanya sesak hingga rasanya ingin meledak, nafasnya pun pendek-pendek.

“It’s okay, kalo lo ngerasa berat buat cerita, Ai. Gue nggak akan maksa, kok,” ucap Satria mengerti. Dengan kening berpeluh dingin dan wajah pucat pasi, ia memberanikan diri membuka ceritanya.

"To be honest, two years ago, I was sexually abused, Sat,” ucapnya pelan dengan tangan tak henti bergetar, ia berusaha mengatakannya dengan jelas tanpa ada isakan yang lolos. Namun, kepalanya terasa amat pusing, ingatan terkutuk itu kembali menghujaninya. Isakannya pun sudah tak terbendung lagi. Aileen mencoba menceritakan semampunya. Entah mengapa ia justru dipenuhi perasaan jijik dan mual. Ia menatap Satria dengan tatapan kosong dan senyuman yang tak bisa dideskripsikan.

"Parahnya, nggak ada yang anggep luka ini nyata. Orangtua gue bahkan bilang kalau gue aib keluarga," lanjutnya dengan terbata-bata dan diselingi isakan tangis. Sesekali ia memukul-mukul dadanya sembari merapalkan kalimat “Gue aib, Sat..." berulang kali.

Satria tertegun mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir Aileen. Bibirnya terkunci sedangkan matanya berusaha mencari mata Aileen yang tak henti mengeluarkan air mata. Ragu-ragu, ia berusaha meraih tangan Aileen sembari berkata. “You’re strong, Ai. You’ve been through this shit all this time, alone. You have me now. Okay?” ucap Satria lembut sembari menangkup tangan Aileen dengan kedua tangannya. Kali ini Aileen tidak menghempaskan tangannya, ia justru memberanikan diri menatap manik mata Satria.